Said Abdullah: Sosok Sosialis Yang Humanis

Membela Kemajemukan

Dia tidak menyetujui SKB dua menteri, dia membela penganut Ahmadiyah, bukan pada keyakinannya namun pada kebebasan mereka dalam menjalankan ibadah keagamaannya dan kepercayaannya. Dia juga membela Konghucu. Memperjuangkan nasib pendidikan pesantren, madrasah diniyah, dan lain-lain. Selain itu, sebagai anggota DPR dia juga memperjuangkan reformasi penyelenggaraan haji yang selama ini cenderung membebani jemaah dengan biaya yang sangat mahal tapi tidak dengan pelayanan yang prima.

Dia juga menentang PP No. 48/2005 tentang pengangkatan tenaga honorer sebagai PNS, dikarenakan mendiskriminasi guru-guru dari sekolah-sekolah swasta sekalipun sudah mengabdi puluhan tahun. Bukan hanya dalam lingkup nasional, di daerah dia selalu menjaga kedekatan dengan masyakarakat pada umumnya.

Oleh karenanya dia mendirikan Said Abdullah Institute sebuah lembaga sosial yang mengajak semua masyarakat untuk menjadikan diri mereka sebagai masyarakat sipil, masyarakat madani, masyarakat yang memiliki kemandirian secara sosial, ekonomi, hukum, agama, budaya, dan politik. Di mana lembaga sosial tersebut didirikan sebagai upaya proses pemberdayaan bagi masyarakat yang belum memiliki kemandirian tersebut.

Baca :  Gugus Tugas Covid 19 dan Jaring Pengaman Sosial

Berbagai kegiatan sosial yang menghilangkan unsur ’politisasi’ dalam bantuan tersebut, telah banyak dilakukan sejak awal bahkan sebelum dia menjadi wakil rakyat. Proses kemandirian yang dia usung untuk menciptakan civil society di masyarakat tidak hanya diusung lewat lembaga sosial Said Abdullah Institutenya namun dia juga mendirikan berbagai media informasi untuk mencerdaskan masyarakat dan upaya mempermudah masyarakat untuk mendapatkan informasi dengan baik. Seperti Madura Channel (TV), Madura FM (Radio), dan Suluh MHSA (Majalah).

MH. Said Abdullah adalah sosok yang telah melibatkan dirinya untuk penguatan masyarakat supaya memiliki kemandirian. Baik melalui lembaga organisasi yang dia buat untuk melakukan proses pemberdayaan maupun melalui berbagai media yang dia dirikan sebagai upaya pencerdasan masyarakat. Proses kemandirian yang dia impikan bagi masyarakat telah menciptakan sebuah proses kelahiran demokratisasi sebagaimana cita-cita negara Indonesia, yakni memakmurkan bangsa, dan menciptakan masyarakat yang adil. Sebuah cita-cita dari para founding father negara Indonesia yang masih jauh dari harapan.

Baca :  Said: Status Sinabung Harus Ditingkatkan Jadi Bencana Nasional

Namun kini kita bisa berharap dengan adanya sosok MH. Said Abdullah kita bisa mendapatkan keadilan dan kemakmuran dari negara tercinta ini.

Sebuah sosok yang mengupayakan lahirnya civil society di masyarakat, dengan melawan, memberontak, dan mengkritisi berbagai kebijakan-kebijakan yang telah ditelorkan oleh negara, dikarenakan kebijakan-kebijakan tersebut ternyata sebuah upaya untuk melanggengkan hegemoni negara terhadap kaum marginal. Sehingga tidak salah ketika sosok Puan Maharani mengatakan beruntung Madura memiliki MH. Said Abdullah putra daerah yang memiliki kepedulian serta menawarkan berbagai cara untuk membangun Madura pasca realisasi Jembatan Suramadu yang berpola modern tanpa harus menghilangkan identitas –local wisdom-keMaduraannya.

Serta memberikan masyarakat Madura kemandirian dalam proses pembangunan industrialisasi di Madura, dalam artian masyarakat Madura bisa menikmati hasil industrialisasi di Madura bukan hanya menjadi penonton. 

Baca :  Said Terus Bantu Yayasan As-Salam