Sayed Junaidi: Gatot Nurmantyo, Ingat Sumpah Sapta Marga

Ketua Umum Rembuk Nasional Aktifis 98 ( RNA 98 ) Sayed Junaidi Rizaldi

JAKARTA-Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia ( KAMI) Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menghadiri deklarasi yang digelar di Alun-alun Kota Magelang, Jumat (18/9/2020).

Mantan Panglima TNI ini menyampaikan orasi singkat membakar semangat massa aksi.

Ketua Umum Rembuk Nasional Aktifis 98 (RNA 98) Sayed Junaidi Rizaldi (SJR) menilai aksi KAMI semakin menunjukkan adanya keinginan untuk menentang pemerintahan.

Mestinya ujar SJR aksi ini bisa diredam mengingat situasi Indonesia saat ini dikepung pandemi Covid-19. Hal ini membuat potensi penularan virus semakin banyak karena akan membuat kerumunan.

“Harusnya dalam situasi pandemic ini harus semua pihak bersabar dan menahan diri karena ada agenda lebih penting kita pikirkan, keselamatan dan kesehatan masyarakat yang terkait dengan masa depan bangsa ini. Saya melihat dengan gerakan seperti ini mereka mau merusak masa depan bangsa ini karena akan menimbulkan kerumunan orang banyak akan menimbulkan cluster-cluster baru sementara kita sudah pusing sebagai masyarakat kita sudah panik terhadap pandemic global yang melanda dunia saat ini,” ujar Sayed, Sabtu (19/9/2020).

Baca :  Gagalnya Gatot Nurmantyo Mencari Panggung Politik

Karena itu tegas SJR, seharusnya semua energi positif anak bangsa difokuskan menuntaskan penyebaran covid-19 ini.

“Melihat fenomena belakangan ini tentang masalah KAMI, dan saya pernah komentari tentang keberadaan mereka sebagai kumpulan orang-orang gagal, kemudian tentang rusuhnya dekalarasi di Magelang, semakin menunjukkan mereka ingin face to face dengan pemerintah yang sah,” terangnya.

Sayed juga menilai, keterlibatan mantan Jenderal Gatot Nurmantyo dalam gerakan tersebut justru tidak memperlihatkan wibawa seorang purnawirawan.

“Harusnya Jenderal Gatot Nurmantyo yang purnawirawan itu harus bersikap bijaklah. Ingat sumpah Sapta Marga, harus mengutamakan kepentingan negara dan bangsa. Kalau memang ingin kekuasaan, kan bisa melalui partai politik,” terangnya.

Dia mengatakan, upaya merebut kekuasaan dalam alam demokrasi harus melalui partai politik dengan parameternya pemilu.

Baca :  Presiden Saksikan Latihan Tempur Angkasa Yudha 2016 di Natuna

Hal ini telah diperlihatkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) waktu.

“Ketika merasa kecewa dengan kekuasaan di depan mata, dia (SBY_red) membuat partai untuk mencapai kekuasaan tersebut dan hari ini eksis bahkan sempat menjadi pemenang pemilu 2009. Saya juga, ketika tidak suka dengan kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat saya demo. Jangan terkesan waktu muda nggak bisa demo, sekarang dengan ramai-ramai mendemonstrasikan cara beretorika, mendemonstrasikan cara pidato kemana-mana, tapi itu semua membuat penyebaran Covid 19 meraja lela,” paparnya.

Sayed juga mengatakan, dalam tunjuk ajar Melayu juga diajarkan tentang budi tersebut. Dimana sebagai sosok yang pernah diangkat Presiden Jokowi menjadi panglima TNI, harusnya Gatot Nurmantyo juga tahu berbalas budi.

“Ibarat kata orang Melayu dalam tunjuk ajar Melayu, apa tanda orang terbilang tahu membalas budi baik, apalah tanda orang terpuji hidup tak lupa membalas budi, apalah tanda orang beriman membalas budi, apalah tanda orang terhormat, baik orang selalu diingat, itu harus merupakan etika moral dalam pemimpin bangsa. Kalau keluar sana, keluar sini seperti orang yang tidak punya pegangan,” terangnya.

Baca :  SJR: Inisiator KAMI Kebanyakan Orang Gagal

“Saya pikir rusak cara berpikir Pak Gatot ini adalah karena orang sekelilingnya juga. Karena manusia itu 90 persen caranya mengambil keputusan itu dipengaruhi orang sekelilingnya. Saya ingatkan tentang situasi kita hadapi sekarang ini. Bukan situasi main-main sekarang, Covid-19 ini lagi menanjak tajam, ini kita fokus hari ini. Kalau mengambil kekuasaan bertarung di gelanggang pemilu legislatif dan bertarung di dalam pemilihan presiden jangan muter-muter diluar gelanggang aja tapi masuklah ke dalam gelanggangnya itu, gentle gitu lho,” pungkasnya.