Singapura Tetap Pusat Bisnis Terbaik Meski Ada Covid-19

JAKARTA-Dampak wabah Virus Corona membuat industri pariwisata negara-negara Asean terkena dampak. Namun Singapura dan Indonesia secara cepat melakukan pencegahan, mulai dari larangan kedatangan wisatawan China hingga kerjasama dengan negara tetangga.

“Singapura adalah negara pertama yang melarang masuknya warga asing dari China. Ini merupakan langkah awal dan antisipatif. Selain itu, pemerintah juga telah menggandeng Malaysia untuk membentuk komite bersama karena volume lalu lintas kunjungan warga antara dua negara ini juga sangat tinggi,” kata pendiri Singapore Guide Book (SGB), platform digital pariwisata Singapura, Tatiana Gromenko Selasa (25/2/2020).

Konsep storynomics tourism merupakan ide yang brilian untuk pengembangan industri pariwisata di Singapura maupun Indonesia. Kedua negara sama-sama memiliki konten-konten yang menarik terkait tempat wisatanya sehingga perlu dinarasikan dengan kreatif dan memikat.

“Misalnya, selama ini orang Indonesia yang datang ke Singapura rata-rata karena ingin berbelanja dan menikmati human-made attraction yang ada di Singapura. Padahal, begitu banyak kisah-kisah di balik tempat-tempat unik di Singapura yang menarik untuk dielaborasi oleh wisatawan,” tambahnya.

Baca :  Kemenag Imbau Umat Kristen Rayakan Paskah di Rumah

Menurut Tatiana, pemerintah negeri Singa sangat serius melindungi warganya dari serangan wabah mematikan Corona. Meski terkena dampak Corona, namun Singapura sebagai destinasi bisnis masih memiliki daya tarik yang kuat.

Teknologi mutakhir, pajak yang rendah, serta sistem transportasi dan infrastruktur yang efisien membantu Singapura menggeser New York dan bahkan bisa menggeser London sebagai pusat bisnis terbaik dunia.

“Bahkan Singapura pun menempati posisi pertama dalam laporan Forum Ekonomi Dunia tentang Indeks Daya Saing Glonbal 2019 yang lalu. Pencapaian ini membuat pemerintah sangat serius dalam meminimalisir dampak Corona.” ujarnya.

Bagi wanita Rusia yang pernah tinggal di Indonesia ini, Singapura adalah destinasi yang menjadi pilihan banyak orang khususnya wisatawan China, yang diikuti oleh Indonesia.

Baca :  BI Pastikan Ketersediaan Uang Rupiah di Masyarakat

Karena itulah SGB tetap mempromosikan Singapura melalui kanal-kanal komunikasinya karena meyakini dalam jangka menengah industri pariwisata dan bisnis global di negara tersebut akan kembali normal.

“Singapura merupakan pusat pertemuan udara, laut dan telekomunikasi di Asia. Dengan lokasinya yang strategis, negara ini membuka akses kepada 4 miliar orang dalam radius 7 jam penerbangan 400 kota dari 100 negara,” ujarnya.

Ditambah lagi, kata Tatiana, dengan fasilitas berstandar global, layanan professional, atraksi-atraksi yang mengagumkan serta acara-acara yang unik, tidak heran jika Singapura menjadi tuan rumah untjuk berbagai kegiatan kelas dunia.

“Bahkan secara konsisten terpilih sebagai tempat teratas untuk penyelenggaraan eksibisi dan pameran.” katanya.

Wanita yang fasih berbahasa Indonesia ini pun menegaskan, wabah Corona tidak bisa mematikan sektor BTMICE (Business Travel and Meetings, Incentive Travel, Conventions and Exhibitions) yang selama ini tumbuh signifikan di sana.Tentu wabah Corona berpengaruh terhadap sektor ini, namun untuk menghentikan secara total tahun ini, saya belum melihat ada tren ke arah tersebut.

Baca :  Presiden: Tantangan Ekonomi Saat Ini Sangat Berat

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Indonesia (GIPI) Panca Sarungu juga mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia yang menghentikan kedatangan turis China ke dalam negeri, meskipun wisatawan negara tersebut berkontribusi 11 persen dari jumlah turis di Indonesia.

“Apalagi turis dari Singapura juga mulai berhati-hati untuk berpergian, padahal 15 persen wisatawan kita berasal dari sana, khususnya untuk perjalanan bisnis. Kita berharap dari Australia yang berkontribusi 9 persen terhadap pariwisata Indonesia, di mana mereka lebih banyak ke Bali,” tutur Ketua Umum Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) tersebut.