Sosok ‘Prime Mover’ Itu Bernama Pak Cik

Aksi berani para aktivis yang menjadi tempat Sayed bergabung ini kembali ditunjukkan pada peristiwa 27 Juli 1997 untuk melakukan gerakan penolakan pencalonan kembali (Alm.) Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia. Aksi protes ini terus berlanjut hingga pecahnya peristiwa Mei 1998 yang membuat Presiden kala itu meletakkan tampuk kekuasaan yang telah ia miliki selama 32 tahun. Beberapa mahasiswa yang menjadi aktivis di FKSMJ ini sempat diamankan oleh rezim yang berkuasa. Namun, koordinasi yang solid dari UPN Veteran Jakarta.

Kini para aktifis 98 mulai dikonsolidasikan dengan terbentuknya Rumah Gerakan 98 dimana Pakcik dipercaya untuk menduduki jabatan Sekjend DPN Rumah Gerakan 98.

Pengalaman berharga ketika menjadi aktivis di masa-masa kuliah ini lah yang pada akhirnya membuat Sayed berhasil menjadi politisi. Latar belakangnya yang menginginkan perubahan baik untuk Indonesia, selama menjabat menjadi politisi, Sayed beberapa kali langsung datang ke daerah-daerah kecil di Riau bahkan Indonesia dengan tujuan agar setiap daerah bisa mendapatkan pemerataan dalam segala bidang.

Baca :  Kominfo Minta Penjelasan Faceebook Atas Penyalahgunaan Data

Dengan jabatan yang ia miliki saat ini, Sayed tetap membawa mimpinya ketika masih kuliah, yaitu membawa perubahan untuk Indonesia. “Bagi saya, jika pertarungan sudah dimulai, maka mundur tidak lah boleh dilakukan karena perjuangan harus selalu dilakukan tanpa peduli kalah atau menang karena mundur itu bentuk sikap pengecut ,” ujar ayah dari Sayed Aqbil Ruhullya Muntazhar dan Syarifah Risya Dara Saqueena serta Syarifah Sauza Dyah Gayatri  ini. (Alex Marten)