Suhadi: Pertemuan Jokowi-Prabowo Bercorak 4 Pilar Kebangsaan

“Dari pertemuan itu, kita mendapatkann penguatan untuk rekonsiliasi politik setelah pada Pilpres yang lalu terjadi pembelahan antar pendukung. Titik didih politik inilah yang harus dijaga semua pihak melalui jalan silaturahmi, agar tidak meledak menjadi manuver liar dan membahayakan demokrasi Indonesia,”imbuhnya.

Dia mentatakan pertemuan Jokowi dan Prabowo merupakan pertemuan kebangsaan dua orang tokoh bangsa.
Karena itu, Suhadi berharap masyarakat Indonesia kembali rukun dan bisa menghilangkan polarisasi yang sempat terjadi di masyarakat saat Pilpres 2019.

“Saya berharap, para pendukung capres, apakah itu cebong ataupun kampret bisa guyub kembali,” ucapnya.

Ketika ditanya apakah rekonsiliasi ini dibarengi dengan pemberian jatah kursi kepada Partai Gerindra? Suhadi mengaku keputusan pemberian jatah kursi kepada kader Gerindra merupakan hak prerogative presiden. Namun dia sangat mendukung jika kader Gerindra masuk cabinet memperkuat pemerintahan.

Baca :  Gerindra Hargai Revisi UU Ormas

“Ini bukan soal opportunis, tetapi bagiamana Negara ini dibangun kedepan,” imbuhnya.

Menurutnya, masuknya Gerindra kedalam kabinet tidak akan menghilangkan fungsi penyeimbang bagi pemerintah. Sebab masih ada PKS dan PAN yang tetap berada di luar pemerintahan.

“Dan saya berharap, PAN dan PKS tidak berada di dalam, biarkan mereka diluar pemerintah,” tuturnya.

Pasalnnya, relawan pendukung Jokowi-Ma’aruf Amin menentang keras jika PKS bergabung kedalam pemerintahan. Apalagi, sampai saat ini, PKS tidak mengakui azas tunggal Pancasila. Sikap PKS ini jelas bertentangan dengan semangat relawan Jokowi-Ma’aruf.

“Demikian juga PAN. Banyak relawan yang terluka dengan pernyataan tokoh PAN Amien Rais,” pungkasnya.