Tekan Beban, SMCB Manfaatkan Bahan Bakar Pengganti Batubara

PT Solusi Bangun Indonesia Tbk

JAKARTA-Anak perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), yakni PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) memutuskan untuk memanfaatkan bahan bakar alternatif (RDF) berupa sampah olahan berbentuk briket sebagai pengganti batubara dalam upaya menekan beban pokok pendapatan.

Menurut Direktur Manufacturing SMCB, Lilik Unggul Raharjo, SMCB merupakan perusahaan pertama di industri semen yang menjadi off-taker pemanfaatan briket berbahan sampah.

Lilik mengatakan, pabrik pembuatan RDF tersebut merupakan kerjasama yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Sedangkan, peralatan pembuatan RDF merupakan hibah dari pemerintah Denmark.

“Setiap hari sampah yang datang untuk diolah di pabrik seluas 3 hektar ini mencapai 120 ton dengan kapasitas mesin mencapai 40 ton per jam. Dari jumlah sampah olahan ini menghasilkan 30-40 ton berupa briket pengganti bahan bakar batubara. Kami yang menjadi off-taker produk ini,” papar Lilik dalam konferensi pers secara virtual saat peresmian operasionalisasi RDF sampah olahan di Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (21/7).

Baca :  PLTU Pertama Berteknologi USC Terbesar di Indonesia Beroperasi

Dengan demikian, kata dia, pemanfaatan RDF pengganti batubara tersebut akan mampu menekan biaya produksi SMCB.

“Produk RDF ini memiliki kalori sekitar¬†3.000-3.200¬†kalori dengan kadar air sebesar 22 persen. Kalau batubara yang sebelumnya dipakai SBI (SMCB), sebesar 4.100 kalori,” ungkapnya.

Pada Kuartal I-2020, SMCB mampu menekan beban pokok pendapatan sebesar 3,23 persen (year-on-year) menjadi Rp1,79 triliun, sedangkan pendapatan perseroan di kuartal pertama tahun ini naik 4,89 persen (y-o-y) menjadi Rp2,46 triliun.

Maka, pada Kuartal I-2020 mencatatkan laba bersih Rp68,43 miliar dari sebelumnya mengalami rugi bersih mencapai Rp123,02 miliar.

Lilik menambahkan, nantinya briket RDF ini juga akan dimanfaatkan sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Baca :  SMGR Aplikasikan Inovasi Reklamasi di Lahan Pascatambang Pabrik Tuban

“Untuk di SBI sendiri, produk ini bisa diserap mencapai 2 juta ton dalam setahun,” ucap Lilik.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan, pembangunan sebuah pabrik pengolahan sampah menjadi RDF ini menelan dana sekitar Rp70 miliar-Rp80 miliar.

“Nanti, kalau BBPT membuat kajian untuk membuat banyak pabrik seperti ini, tentu cost untuk satu buah pabrik bisa semakin menurun,” imbuhnya.

Luhut meminta agar BPPT segera merencanakan dan mengkaji pembangunan beberapa pabrik serupa di berbagai wilayah.

“Presiden juga meminta agar produk yang bisa diproduksi di dalam negeri sebisa mungkin dibuat di sini saja. Jadi, pekan depan BBPT harus sudah paparkan ke kami dan nanti kami laporkan ke Presiden,” tegas Luhut.

Baca :  Tambah 4,2 GW Pembangkit di 2019: Capaian Tertinggi Program 35 GW

Dengan demikian, lanjut dia, pada tahun depan sudah ada beberapa pembangunan konstruksi pabrik pengolahan sampah menjadi RDF di sejumlah wilayah.

“Kita (Indonesia) sudah bicarakan waste-to-energy selama 12 tahun dan realisasinya belum tuntas. Tetapi, BPPT sudah bilang bahwa produk ini bisa untuk bahan bakar pembangkit listrik,” ujar Luhut.