Terbitkan Global Bond, Inalum Diminta Transparan dan Hati-Hati Kelola Dana

JAKARTA-Masyarakat mendukung langkah PT Inalum mengakuisisi PT Freeport Indonesia meski menggunakan skema penjualan global bond. Seperti diketahui penerbitan global bond Inalum, tersebut meraup US$4 miliar atau sekitar Rp58,4 Triliun.

“Karena sumber dana masih terbatas, ya bisa saja dalam ekonomi itu dengan menjual Global Bond. Sah-sah saja,” kata Wakil Ketua umum Partai Hanura Yus Usman Sumanegara kepada Majalah Suara Pemred di Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Akuisisi Freeport, kata Yus Usman, sekaligus menunjukkan bagaimana Indonesia menjadi negara berdaulat secara penuh. “Ini sebenarnya luar biasa, karena tujuannya untuk mengurangi dominasi kepemilikan asing,” tambahnya.

Ditanya mengapa menerbitkan memilih global bond ketimbang sindikasi perbankan, Yus Usman menjelaskan sepanjang dalam skema global bond itu masih ada margin, tentu tak masalah.”Lho, ketimbang kita tidak dapat margin. Tak masalah pakai skema global bond. Pakai instrumen apa saja bisa, yang penting masih dapat margin,” terangnya.

Baca :  Lifting Turun, Pengaruhi Dana Bagi Hasil Migas

Menurut Yus Usman, langkah PT. Inalum mencari sumber dana dari Dana Pihak Ketiga (DPK) tentu perlu diapresiasi. Dengan catatan sumber dana DPK itu dikelola dengan transparan dan akuntable, sehingga bisa menikmati aset tersebut.

Sebagaimana diketahui penerbitan obligasi global PT Inalum (Persero) senilai US$ 4 miliar atau sekitar Rp 58,4 triliun yang dicatatkan di Amerika Serikat (AS) menawarkan bunga tinggi 5,5% hingga 7,375%. Minat investor untuk membeli obligasi global tersebut membeludak sehingga mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) empat sampai tujuh kali lipat dari nilai penawaran.

Berdasarkan data Bloomberg, Inalum menjual obligasi global tersebut dalam empat seri. Seri pertama dengan nilai pokok US$ 1 miliar memiliki tenor tiga tahun atau jatuh tempo pada 2021 dengan bunga 5,5%. Seri kedua dengan nilai pokok US$ 1,25 miliar bertenor lima tahun atau jatuh tempo 2023 dengan bunga 6%. Seri ketiga dengan nilai pokok US$ 1 miliar memiliki tenor 10 tahun atau jatuh tempo 2028 menawarkan bunga 6,875%. Seri keempat dengan nilai pokok US$ 750 juta bertenor 30 tahun atau jatuh tempo 2048 dengan bunga 7,375%.

Baca :  Defisit Neraca Perdagangan US$ 300 Juta

Ada sinyalemen pemerintahan menyebutkan obligasi global Inalum yang bertenor tiga tahun mengalami noversubscribed hingga US$ 4,1 miliar atau empat kali lipat. Obligasi global bertenor lima tahun juga kelebihan permintaan 4,4 kali atau US$ 5,5 miliar. Obligasi global tenor 10 tahun menarik minat paling besar, dengan kelebihan permintaan hingga tujuh kali lipat atau US$ 7,1 miliar. Adapun obligasi global bertenor 30 tahun kelebihan permintaan sebanyak 4,9 kali lipat atau US$ 3,7 miliar.

Dana hasil penerbitan obligasi global tersebut akan digunakan untuk membiayai akuisisi saham mayoritas PT Freeport Indonesia. Dana hasil penerbitan obligasi valas ini juga bisa digunakan untuk refinancing pinjaman yang didapatkan perseroan untuk membiayai akuisisi tersebut. ***

Baca :  BPK Segera Beri Penilaian Soal Proyek JSS