Trend Rupiah Kembali Terdepresiasi

JAKARTA-Bursa AS melanjutkan koreksinya dalam 3 hari perdagangan terakhir seiring pasar kembali mengantisipasi potensi Tapering QE3 di bulan Oktober dan sentiment negatif dari potensi gagalnya kesepakatan antara Obama dan Kongres untuk menaikkan debt limit AS di akhir bulan ini. Sementara harga minyak melanjutkan koreksinya dalam 3 hari berturut-turut dengan turun 1.1% ke level US$103.6/barel sementara harga metal dunia terkoreksi tipis. “ETF Indonesia di bursa AS hanya melemah tipis 0.9% semalam,” ujar analis valas PT Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih di Jakarta, Selasa (24/9).

Sementara itu kata dia, bursa Asia Selasa pagi ini (24/9) dibuka mixed dengan kecenderungan melemah memfaktorkan kembali terkoreksinya bursa AS semalam.

Tren nilai tukar Rupiah kembali menunjukkan pelemahan meski tetap diperdagangkan pada rentang lebar antara Rp11,200 – Rp11,500/US$ sementara kurs NDF pagi ini terdepresiasi signifikan ke level Rp11,405/US$. Seiring dengan kembalinya trend pelemahan di nilai tukar Rupiah, IHSG hari ini diperkirakan akan kembali bergerak melemah. Minimnya sentimen positif baru akan menjadi pemicu profit taking khususnya pada sektor-sektor bankingcement, constructiondan consumer. Sementara sektor berbasis komoditas akan diuntungkan dengan sentimen depresiasi Rupiah. “Support indeks berada di level 4,500,” jelas dia.

 

Baca :  Stabilitas Sistem Keuangan Triwulan III-2017 Normal