Triwulan I-2020, Perekonomian DIY Alami Kontraksi 0,17 %

Anggota Tim Survei Gugus Tugas JERCovid-19 KADIN DIY & ISEI DIY, Y. Sri Susilo.

YOGYAKARTA-Dampak pandemi covid-19 memukul seluruh sektor ekonomi di Indonesia, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Deputi Kepala Perwakilan BI DIY, Miyono menjelaskan perekonomian DIY selama Triwulan I-2020 mengalami kontraksi 0,17 persen.

Kontraksi sebesar 0,17 persen (y-on-y) berlawanan arah dibandingkan pertumbuhan ekonomi periode yang sama di 2019 sebesar 7,51 persen.

“Jika dibanding triwulan IV-2019 perekonomian DIY mengalami kontraksi sebesar 5,48 persen (q-to-q),” ujar Miyono disela-sela Seminar Regional Daring dengan topik “Kondisi Perekonomian DIY Terkini: Dampak Pandemi Covid-19 dan Strategi Pemulihan” di Yogyakarta, Rabu (20/05/20).

Seminar ini digelar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta bekerjasama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY (KPwBI DIY) dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY.

Selain Miyono, Webinar tersebut menampilkan Dosen FBE UGM dan Wakil Ketua ISEI DIY, Amirullah Setya Hardi serta Dosen FBE UAJY dan Sekretaris ISEI DIY, Y. Sri Susilo.

Baca :  Pelaku Industri Apresiasi Terobosan Menperin Hadapi Pandemi Covid-19

Bertindak selaku moderator Dosen FBE UAJY, Samiaji Sarosa. Acara Webinar dibuka Dekan FRBE UAJY, Budi Suprapto Dekan FRBE UAJY.

Menurut Miyono, kontraksi tersebut disebabkan sektor akomodasi dan penyediaan makan minum tumbuh negatif.

Hal tersebut dikarenakan kampus dan obyek wisata ditutup seiring dengan adanya wabah Pandemi Covid-19.

Industri pengolahan mengalami kontraksi yang cukup dalam.

Kontraksi terbesar tejadi pada industri kayu dan industri furniture akibat berkurangnya ekspor luar negeri.

Penyebab lain adalah sektor pertanian mengalami kontraksi yang disebabkan mundurnya musim hujan tahun 2019 sehingga panen tanaman padi masih rendah.

Dimungkinkan pada Triwulan II-2020 kontraksi bisa meningkat dikarenakan dampak Pandemi Covid-19 yang belum mereda.

“Pelaku usaha di DIY sudah merasakan dampak Pandemi Covid-19 dan telah menyesuaikan diri dengan melakukan perubahan perilaku agar usahanya tetap bertahan”, jelas Amirullah Setya Hardi.

Baca :  DPD RI Minta Pemerintah Pusat Tingkatkan Koordinasi Dengan Pemda

Strategi yang ditelakukan pelaku usaha di DIY pada umumnya dengan melakukan penutupan usaha sementar, merumahkan karyawan sementara, membuka usaha disertai pengurangan jam kerja, mencari peluang usaha baru, dan kombinasi dari hal tersebut.

Menurut Amirullah, pelaku usaha di DIY sebagian sudah mempunyai rencana terkait usahanya Pasca Pandemi Covid-19 (Era New Normal).

Rencana termaksud adalah penguasatan pemasaran, revitalisasi bisnis, dan efisiensi operasional usaha.

Sementara itu, Y. Sri Susilo mengatakan sektor pariwisata di DIY merupakan sektor yang paling awal dan paling berdampak Pandemi Covid-19.

Dampak terhadap sektor pariwisata tersebut dapat dilihat dari jumlah 97 hotel tutup sementara (April 2020). Kemudian Tempat lokasi wisata (candi, pantai, museum, desa wisata, kawasan wisata, kraton, kebun binatang dsb) tutup sementara.

Baca :  Harga Sembako Terkendali Meski Ada Wabah Covid-19

Kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) berhenti total.

Total pekerja sektor pariwisata 24.885 orang, dirumahkan 21.531 orang (86,52 persen), PHK 499 orang (2,01 persen) dan 2.825 pegawai (11,35 persen) masih bekerja (April 2020).

Sebagian besar hotel dan restoran menyatakan mampu bertahan sampai dengan Juni 2020.

“Kontribusi sektor Pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi DIY pada tahun 2019 mencapai 17,46 persen”, tegas Y. Sri Susilo.

Jika kondisi tersebut berkepanjangan akan semakin menekan sektor pariwisata dan Perekonomian DIY.

Webinar yang diselenggrakan oleh FBE UAJY, BI DIY dan ISEI DIY tersebut diikuti oleh sekitar 200 peserta yang terdiri dari perwakilan akademisi, pelaku usaha, dan birokrasi.

“Webinar terkait kondisi Perekonomian dan Bisnis DIY terkini akan dilaksanakan secara rutin setiap bulan”, tutup Y. Sri Susilo.