Tumbuh Fantastis Saat Pandemi, IKFT Diyakini Jadi Penopang Utama Ekonomi 2020

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Doddy Rahadi

JAKARTA-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meyakini, sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional (IKFT) akan menjadi penopang utama perekonomian domestik, dibandingkan sektor industri lain yang berada dalam tren menurun bahkan berkinerja negatif hingga akhir Kuartal III-2020.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional Kemenperin, Dody Widodo mengatakan bahwa sektor IKFT akan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional di 2020, jika dibanding sektor industri pengolahan non-migas lain. Bahkan, pada Kuartal III-2020 sektor IKFT mengalami pertumbuhan mencapai 14,96 persen (year-on-year).

“Meski sebagian besar sektor industri  tercatat minus, namun ada empat sektor yang positif. Industri kimia, farmasi dan obat tradisional tercatat bertumbuh 14,96 persen pada kuartal ketiga,” kata Dody pada diskusi virtual bertajuk “Reformasi Regulasi, Reformasi Ekonomi dan Redormasi Birokrasi”, Jakarta, Kamis (19/11).

Baca :  Harga Gas Tak Pernah Beres, Presiden Minta Dikalkulasi Agar Lebih Kompetitif

Dia menyebutkan, selain sektor IKFT, sektor industri pengolahan non-migas yang mencatatkan pertumbunan positif antara lain, industri logam dasar yang bertumbuh 5,19 persen, industri pengolahan lainnya sebesar 1,15 persen, serta industri makanan dan minuman yang masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 0,66 persen.

“Sebenarnya, industri makanan dan minuman di awal pandemi Covid-19 juga bertumbuh baik, namun pada Kuartal III-2020 mengalami penurunan,” ujar Dody sembari menyebutkan bahwa sektor industri yang mengalami penurunan terdalam adalah industri alat angkutan, yakni minus 29,98 persen.

Sementara itu, lanjut Dody, data yang menggembirakan bagi perbaikan pertumbuhan ekonomi adalah transaksi ekspor di tengah pandemi. Ada lima sektor industri dengan nilai ekspor terbesar, seperti makanan dan minuman sebesar USD21,38 miliar, logam dasar senilai USD16,96 miliar, IKFT USD9,54 miliar, barang dari logam, elektronik, optic dan peralatan listrik senilai USD9,11 miliar, serta tekstil dan pakaian jadi senilai USD8,01 miliar.

Baca :  Pabrik Pelumas Senilai USD 52 Juta Beroperasi di Cikarang

Dia menegaskan, kontribusi ekspor sektor industri per akhir Kuartal III-2020 sebesar 80,52 persen terhadap total ekspor nasional yang mencapai Rp117,19 miliar. Dody menyatakan, perusahaan swasta di Indonesia masih lebih kokoh dibanding perusahaan di negara-negara Asia Tenggara.

“Meskipun sempat jatuh ke level 27,5 (April 2020), PMI (Purchasing Manager Index) Indonesia pelan-pelan mulai meningkat, khususnya pada Agustus yang menyentuh angka 50,8. Meskipun sempat turun lagi di September dan Oktober,” kata Dody.

Kondisi PMI yang membaik tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa sektor industri dalam negeri mulai menunjukkan perbaikan di tengah kondisi pandemi Covid-19. “Diharapkan beberapa bulan ke depan, sektor manufaktur akan bergerak dengan cepat,” imbuh Dody.

Baca :  Tahun Lalu, Total Investasi Industri Kimia Mencapai Rp 26,2 Triliun

Lebih lanjut Dody mengaku, Kemenperin terus mendorong operasional sektor industri dengan berkoordinasi bersama pemerintah daerah dalam meningkatkan pengawasan dan pembinaan terhadap perusahaan yang masih beroperasi. “Ini sebagai upaya memacu pertumbuhan ekonomi nasional di tengah masa pandemi Covid-19,” ujarnya.