Wong Hang Tailor Salurkan APD Untuk Tenaga Medis dan Non Medis Melalui PDEI

Stephen Wongso (Wong Hang Tailor) - dr. Moh Adib Khumaidi, SpOT (Ketua PDEI) - Samuel Wongso (Wong Hang Tailor)

JAKARTA-Wong Hang Tailor, rumah produksi jas premium asal Surabaya memproduksi Alat Perlindungan Diri (APD) berupa Coverall (hazmat) dan face shield untuk para tenaga medis dan Non Medis di Indonesia.

Bantuan ini disalurkan melalui jaringan Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI).

“Ditengah pandemi Covid-19 yang memakan banyak nyawa yang terus bertambah, kebutuhan para tenaga medis akan APD juga semakin meningkat. Terutama semua APD tersebut bersifat sekali pakai, karena harus segera dimusnahkan agar virus yang melekat tidak menular,” ujar Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI), dr Moh. Adib Khumaidi, SpOT, Kamis (14/5).

Dia mengatakan kebutuhan akan APD ini akan selalu ada dan akan terus meningkat.

“Rata-rata kebutuhan APD untuk satu Rumah Sakit (RS) skala menengah adalah sekitar 50-100 set per hari. Sementara untuk RS skala besar berkisar 150-250 set per hari,” katanya.

Tergugah oleh minimnya produksi APD dalam negeri, Wong Hang Tailor, memproduksi APD berupa Coverall (hazmat) dan face shield untuk para tenaga medis.

“Semua ini berawal ketika kami mendengar ada anak salah satu mitra yang menangani pasien Covid-19 di salah satu RS Rujukan pemerintah, dan ia harus menggunakan 1 coverall selama berulang kali karena minimnya stok coverall di RS,” kata Stephen Wongso dari Wong Hang Tailor.

Baca :  Penjualan Mamin Online Meningkat 143%

Berbekal coverall bekas pakai, karena langkanya coverall pada saat awal produksi tersebut, Stephen Wongso dan Samuel Wongso membedah pola dan menyesuaikan pola coverall mereka dengan pola dan model aslinya.

Selain itu jenis jarum yang digunakan dan pemilihan bahan material juga diriset hingga detail agar memenuhi standar penggunaan medis.

Setelah jadi, sampel coverall buatan Wong hang dikirimkan ke sejumlah dokter untuk memperoleh masukan.

“Para dokter tersebut memberikan banyak revisi yang sangat menolong kami dalam menyempurnakan coverall buatan kami. Dari masukan tersebut, kami merevisi hingga puluhan kali sampai akhirnya sesuai dengan requirement medis hingga akhirnya bahan baku dan standar jahitan kami sesuai dengan SOP medis. Lalu, APD tersebut diproduksi massal untuk kemudian didonasikan ke berbagai Rumah Sakit yang membutuhkan,” kata Stephen.

Dengan mengerahkan seluruh tenaga penjahit yang dimiliki di Jakarta dan Surabaya, Wong Hang Tailor bisa memproduksi hingga 1000 coverall per hari.

Jenis coverall yang diproduksi pun beragam, tidak hanya untuk tenaga medis saja, namun juga petugas dari berbagai elemen yang terlibat dalam penanganan Covid19 ini.

Namun tidak memiliki APD yang sesuai, seperti supir mobil ambulans, penggali kubur, petugas kebersihan RS, atau petugas keamanan RS.

Baca :  Mendes PDTT Surati Kepala Daerah Yang Lamban Tangani BLT Dana Desa

Stephen mengaku, kendala utama Wong Hang saat ini dalam produksi APD adalah harga bahan baku yang terus melambung tinggi hingga 300 persen.

Hal ini menjadikan output APD melambung tinggi. Selain itu, banyak oknum memanfaatkan situasi pandemi ini dengan memproduksi coverall dengan bahan dibawah standar namun meraup keuntungan dari hal tersebut.

Disisi lain, banyak orang awam yang tidak paham tentang APD dan hanya sekadar donasi.

“Ada calon donatur yang hanya melihat harga dan mementingkan jumlah APD yang mau disumbangkan namun tidak melihat standar kualitas barang yang hendak disumbangkan apalagi untuk para tenaga medis. Padahal yang harus dipahami adalah bahan dan jahitan APD yang hendak diberikan harus sesuai dengan standar medis karena dapat mengancam nyawa pemakainya,” tegas Stephen.

APD coverall buatan Wong Hang menggunakan bahan spunbound 90-100 gram (untuk medis), dan ada juga yang menggunakan bahan parasut dan nilon (untuk non medis) yang mana bahan ini bisa dicuci ulang dan tentunya sangat menolong petugas non medis di daerah sehingga tidak perlu sekali pakai buang.

Untuk penyaluran ke RS, Wong Hang Tailor bekerjasama dengan PDEI yang memiliki jaringan tenaga medis di seluruh Indonesia untuk menargetkan pengiriman APD untuk kebutuhan di luar Pulau Jawa.

Baca :  HMS Center: Pemerintah Inkonsisten Larang Mudik

Apalagi, hingga saat ini masih banyak wilayah-wilayah Zona Merah di luar Jawa yang sangat membutuhkan APD yang layak sesuai standar medis.

Selain APD coverall dan face shield, kata dr Adib, para tenaga medis juga membutuhkan gaun sekali pakai (baju hijau) yang berfungsi melindungi tubuh dari pajanan melalui kontak atau droplet dengan cairan dan zat padat yang infeksius untuk melindungi lengan dan area tubuh tenaga kesehatan selama prosedur dan kegiatan perawatan pasien.

Terutama yg reusable ( dapat digunakan kembali ) dan bisa dicuci untuk dipakai kembali selama tidak ada kerusakan.

“Kebutuhan APD untuk tenaga medis yang saat ini memerlukan sustainability (keberlangsungan) pelayanan kesehatan, karena sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan kapan Pandemi Covid ini akan berakhir. Persiapan-persiapan protokol untuk kembali melakukan pelayanan biasa sangat membutuhkan APD dalam jumlah yang cukup besar,” kata dr Adib.

Stephen dan Samuel Wongso berharap, APD coverall dan face shield buatan Wong Hang Tailor dapat membantu mengurangi kematian para tenaga kesehatan Indonesia, dan juga membantu para tenaga non medis seperti petugas kebersihan dan para penggali kubur sehingga dapat melakukan tugas mereka dengan aman.