Akbar Ingatkan Akom Tak Rangkap Jabatan

41

JAKARTA-Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Akbar Tandjung mengingatkan Ketua DPR Ade Komaruddin tidak maju sebagai Ketua umum Partai Golkar dalam Munaslub di Bali pada 15 Mei 2016 nanti. Alasannya sulit melaksanakan dua tugas penting sebagai ketua DPR dan Ketua umum Golkar sekaligus. ““Saya berharap Ade fokus saja menjadi Ketua DPR. Karena kemerosotan kinerja DPR saat ini. Ini tugas yang berat dan apakah mungkin bisa berhasil dan sukses?,” katanya ketika dihubungi, Senin (9/5/2016).

Menurut Akbar, situasi dan kondisi saat ini berbeda dengan dirinya saat menjadi Ketua umum dan sekaligus Ketua DPR. Dirinya menjelaskan bahwa awalnya menjadi ketum Golkar baru menjadi ketua DPR dipilih oleh DPR melalui voting. “Dulu saya sudah mampu melewati situasi yang amat berat, kritis dan menentukan keberlangsung hidup Golkar,” ucapnya.

Saat itu Golkar dihina, kata Akbar, diminta bubar dan terancam tidak bisa ikut pemilu. Namun Golkar tetap mampu bertahan dan lolos dalam pemilu. Bahkan mendapatkan suara nomor dua, PDIP dapat 150 kursi dan kami 120. “Ini diluar dugaan banyak orang dan bahkan banyak pengamat yang ektrem. Mereka mengatakan suara Golkar tidak akan mencapai 5%dan kami berhasil meraih lebih dari 20%. Situasi ini sekarang berbeda,” tambahnya.

Proses pemilihan pimpinan DPR setelah pemilu pun berbeda dengan saat ini. Semua pimpinan DPR dan MPR dipilih. ”Saat itu mayoritas fraksi maunya aklamasi memilih saya. Tapi saya ingat Almarhum Hartono Mardjono dari PBB mengatakan untuk tidak lagi menggunakan cara-cara orba dengan pemilihan model aklmasi,” jelasnya.

Almarhum Hartono, kata Akbar, bukan tidak suka terhadap dirinya. Bahkan Hartono akan memilih Akbar, namun prosesnya jangan seperti itu. Rapat membahas itu pun berjalan sampai larut malam dan akhirnya menerima proses agar dipilih melalui votting. “Saya pun menjadi ketua DPR karena mayoritas suara memilih saya,” jelasnya.

Terkait dengan surat peryataan Ade Komaruddin untuk tidak maju menjadi ketua umum Partai Golkar, Akbar mempersilahkan dewan etik untuk melakukan tugasnya. Dia mengaku bahwa dirinya berjanji untuk tidak menginisasi Munaslub. “Tapi kan kalau dia membaca disitu jelas tertulis bahwa perjanjian itu bukan masalah persiapan munaslub tapi masalah pemilihan ketua umum baru,” tegasnya.

Ditanyakan mengenai bagaimana kader Partai Golkar yang memiliki suara dalam Munaslub akan percaya pada komitmen Ade jika menang dalam Munaslub, sementara surat perjanian diatas materai yang dia tandatangani bersama penguasa Golkar saat ini saja dia tidak menjalankan, Akbar tidak mau mengomentarinya. “Kalau masalah komitmen itu kan biar nanti kader saja yang menilai. Saya tidak mau mengomentari hal itu,” tandasnya.

Akbar sendiri nampaknya mendukung Airlanggar Hartarto. Menurutnya dalam debat para calon ketua umum itu saja, terlihat kemampuan dan wawasan Airlangga dan komitmennya untuk memberikan seluruh waktunya bagi Partai Golkar.”Selain itu mungkin sudah saatnya Partai Golkar kembali dipimpin oleh orang Jawa,”tandasnya. ***aec