Bank Syariah Harus Dorong Pembiayaan Modal Kerja

24

JAKARTA-Kalangan industri perbankan syariah diminta lebih memprioritaskan sektor-sektor produktif ketimbang konsumtif. Bahkan kalau perlu menggenjot kredit untuk modal kerja. “Pembiayaan lebih dialokasikan pada sektor-sektor produktif. Pembiayaan modal kerja harus lebih dominan sehingga lebih berkualitas,” kata Pengamat ekonomi syariah FEUI, Agustianto di Jakarta, Kamis, (23/5).

Menurut Agustianto, saat ini tinggnya pertumbuhan pembiayaan konsumsi tidak lepas dari besarnya permintaan masyarakat., terutama sektor properti dan kendaraan bermotor menjadi dua sektor utama dengan pertumbuhan tertinggi. “Karena itu, jika ingin lebih berkontribusi pada pembangunan ekonomi nasional,  maka perbankan syariah harus lebih meningkatkan pembiayaan modal kerja dan investasi seraya laju pembiayaan konsumsi ditahan,” tambahnya.

Meski begitu, Agustianto masih yakin pembiayaan kendaraan bermotor dapat dikategorikan sektor produktif. Apalagi, penyaluran pembiayaan itu lebih diarahkan pada sektor usaha kecil dan menengah, terutama para wirausaha. Ini diharapkan dapat memberikan efek berganda yang lebih besar. “Melihat FDR yang melewati 102%, tentu ada keterbatasan likuiditas pembiayaan di perbankan syariah. Ke depan, setiap dana segar langsung dialokasikan ke modal kerja dan investasi,” harapnya.

Berdasarkan data statistik perbankan syariah Bank Indonesia (BI) pada kuartal I/2013, sambung Agustianto, Indonesia terus membukukan pertumbuhan pembiayaan yang tinggi. Namun, pertumbuhan pesat ini dinilai belum secara optimal menyentuh sektor ekonomi riil di tanah air.  Pada data tersebut, bank umum syariah dan unit usaha syariah membukukan pembiayaan sebesar Rp161,08 triliun.

Total pembiayaan tersebut tumbuh 47,62% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni Rp109,655 triliun. Tingginya penyaluran pembiayaan itu mendorong rasio pembiayaan terhadap simpanan atau finance deposit ratio (FDR) meningkat tajam dari 87,13% menjadi 102,62%. **can