BI Perkirakan Nilai Tukar Rupiah di 2014 di Level 9.500

41

JAKARTA-Kinerja neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada  2013 diperkirakan membaik.  Positifnya kinerja NPI ini bisa mengerek penguatan nilai tukar rupiah pada 2014 ke kisaran 9.500-9.700 per dollar Amerika Serikat (AS). “Nilai tukar 2014 antara lain akan dipengaruhi neraca perdagangan Indonesia yang diperkirakan akan lebih baik dibandingkan 2013,” kata Gubernur BI, Agus Martowardoyo di Gedung DPR Jakarta, Kamis (20/6).

Menurut Agus, transaksi modal dan finansial akan mencatat surplus yang lebih besar, sehingga akan mampu menekan defisit transaksi berjalan. Kondisi ini, tidak terlepas dari perkiraan akan membaiknya perekonomian global yang ditopang perekonomian domestik yang lebih kuat. “Berbagai upaya pendalaman pasar valuta asing akan terus kami tingkatkan, sehingga bisa memberi kontribusi bagi penguatan rupiah di 2014,” ucap dia.

Bahkan, lanjut Agus, BI juga memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah di 2013 bisa berada pada kisaran 9.500-9.700 per dollar AS, karena diproyeksikan neraca pembayaran Indonesia membaik di semester II-2013 ini. “Hal ini tentu ada juga dukungan dari pengaruh positif penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi,” imbuh dia.

Sementara itu, terkait dengan inflasi 2013 pasca kenaikan harga BBM, Agus memperkirakan angka inflasi akan berada di level 7,7 persen atau berada di atas perkiraan inflasi pemerintah yang sebesar 7,2 persen. “Peningkatan inflasi ini terutama karena pengaruh penyesuaian harga BBM bersubsidi. Namun, kami melihat inflasi 2013 masih berpeluang 7,2 persen,” ujar Agus.

Dia menjelaskan, target inflasi lebih rendah dari 7,2 persen bisa dicapai, apabila BI dan pemerintah bisa mengoptimalkan penerapan sejumlah kebijakan yang mampu menjadi stimulus moneter dan fiskal.
     
Agus berharap, pemerintah bisa memitigasi dampak kenaikan harga BBM bersubsidi, seperti pengendalian harga pangan, pasokan pangan dan menekan kenaikan tarif angkutan umum. “BI juga akan menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah. BI akan melanjutkan penguatan moneter dan melaksanakan bauran, termasuk bauran kebijakan makroprudensial,” tutur dia