Ekspor Tembus USD4,5 Miliar, Indonesia Targetkan Jadi Kiblat Busana Muslim Dunia

Ekspor Tembus USD4,5 Miliar, Indonesia Targetkan Jadi Kiblat Busana Muslim Dunia

22
0
BERBAGI
Pada Model sedang memperagakan busana muslim

JAKARTA- Indonesia berpotensi menjadi produsen sekaligus pasar busana muslim terbesar di dunia. Hal ini seiring dengan rasio penduduk muslim di Tanah Air sekitar 87,2 persen. “Kami bertekad menjadikan Indonesia sebagai kiblat busana  muslim dunia pada tahun 2020,” ujar Plt. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag, Tjahya Widayanti di Jakarta, Kamis (19/5).

Dia optimistis tekad tersebut dapat terwujud mengingat Indonesia memiliki potensi yang besar sebagai trend setter industri mode muslim global.  Apalagi, tren produk fesyen (termasuk busana muslim) pada periode 2011-2015 menunjukkan nilai positif sebesar 8,15%. “Sementara itu dari segi volume ekspor, terdapat peningkatan pada Januari 2016 sebesar 3,87% dibandingkan periode yang sama tahun 2015,” jelasnya.

Strategi mewujudkan Indonesia sebagai kiblat busana muslim dunia jelasnya dengan mengikuti berbagai festival busana muslim untuk mendorong permintaan ekspor. Salah satunya melalui Muslim Fashion Festival (MUFFEST) Indonesia 2016. Sebanyak 40 desainer (UKM) difasilitasi Kemendag dalam pagelaran ini.

MUFFEST yang digelar pertama kalinya pada 25-29 Mei 2016 ini ditargetkan bisa menjadi etalase bagi industri mode muslim Indonesia di kancah internasional. “Ajang ini sekaligus bisa mengangkat peran pelaku industri mode muslim dari seluruh penjuru nusantara,” lanjutnya.

 

Tjahya menuturkan pada 2014, kinerja ekspor produk busana muslim sebesar USD 4,63 miliar dengan tren pertumbuhan ekspor 2,30%. Bahkan pada 2015, kinerja ekspor produk busana muslim berhasil  menembus USD 4,57 miliar. “Sedangkan pencapaian di Januari 2016 mengalami peningkatan 2,13% dibandingkan dengan Januari 2015 dari USD 366,2 juta menjadi sebesar USD 374 juta. Kami optimis, tren ini akan terus meningkat,” ujarnya.

Tjahya juga mengungkapkan, busana muslim sebetulnya belum memiliki Kode HS yang baku. Hal ini membuat kinerja ekspor produk busana muslim dicatat berdasarkan hasil pengelompokan rekomendasi Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kemendag.

Kode HS untuk produk busana dengan kriteria panjang (menutupi seluruh tubuh) dan berbahan tebal (tidak tipis), yaitu HS 6203, HS 6204, HS 6104, HS 6206, HS 6205, HS 6201, HS 6103, HS 6105, HS 6106, HS 6101, HS 6102, dan HS 6202.

Merujuk pada data Thomson Reuters dalam State of the Global Islamic Economy 2015, nilai belanja yang dikeluarkan masyarakat muslim dunia cukup fantastis sekitar USD 230 miliar untuk pakaian dan sepatu pada 2014. Jumlah tersebut merupakan 11% total belanja pakaian penduduk dunia dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 3,8% per tahun. Diperkirakan, jumlah tersebut akan melonjak sampai USD 322 miliar pada 2018 atau mencapai 11,5% dari total belanja global. Saat ini, negara yang menjadi tujuan ekspor fesyen muslim Indonesia yaitu Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Korea, Inggris, Australia, Kanada, Uni Emirat Arab, Belgia, dan RRT.

Posisi Indonesia saat ini berada pada urutan ke-5 sebagai negara konsumen busana muslim terbesar dengan nilai USD 12,69 miliar pada 2014. Urutan pertama adalah Turki (USD 24,84 miliar), Uni Emirat Arab (USD 18,24 miliar), Nigeria (USD 14,99 miliar), dan Arab Saudi (USD 14,73 miliar). Di bawah Indonesia ada Rusia (USD 10,92 miliar), Mesir (USD 10,72 miliar), dan Pakistan (USD 10,52 miliar).  “Data tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan bisnis fesyen muslim di Indonesia agar menjadi acuan industri mode muslim dunia. Di tengah persaingan pasar global, para pelaku industri mode busana muslim harus memiliki fondasi industri  dari hulu ke hilir yang tangguh dan unggul,”pungkasnya