HSBC dan PSF Intensifkan Program Edukasi Perbankan dan Keuangan

57
photo dok: www.beritamoneter.com

MEDAN-HSBC berkolaborasi dengan Putera Sampoerna Foundation (PSF) kembali menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan intensitasnya dalam mengedukasi masyarakat di bidang literasi keuangan, khususnya dari dunia pendidikan dan dunia usaha. Salah satu bentuk dukungannya melalui penyelenggaraan program Training of Trainers (TOT) dan Professional Development Program (PDP) yang akan berlangsung selama 3 hari pada 1-4 Juni 2016.

Medan merupakan kota kedua, setelah sebelumnya rangkaian program ini diselenggarakan di Jakarta pada pertengahan Mei lalu dengan menghadirkan para pakar di bidang keuangan dan perbankan, seperti Bapak Faisal Basri, serta Dr. Aviliani.

TOT dan PDP merupakan bagian dari Program Pendidikan Perbankan dan Keuangan, sebuah kolaborasi antara HSBC dan PSF yang dijalankan oleh Sampoerna University. Program ini mulai digelar sejak Oktober 2015 hingga 2018 mendatang.

Kerja sama ini dilatarbelakangi oleh masih belum tercukupinya jumlah profesional di industri perbankan yang mumpuni dan memiliki kompetensi tinggi. Hal ini disinyalir menjadi salah satu faktor penyebab belum optimalnya dukungan layanan perbankan dalam meningkatkan kinerja dunia usaha di Indonesia, khususnya di kalangan UMKM. “Di tengah makin menguatnya kinerja sektor perbankan di Indonesia, ternyata masih terdapat kebutuhan yang harus segera diantisipasi, yaitu masih kurang optimalnya kualitas profesional yang menjembatani hubungan antara perbankan dengan masyarakat dan dunia usaha,” ujar Director of Fundraising, Putera Sampoerna Foundation, Ari Kunwidodo dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (1/6).

Penyelenggaraan Program TOT ditujukan bagi para staf pengajar perguruan tinggi se-Indonesia, sedangkan PDP menyasar kalangan profesional perbankan dan institusi keuangan lainnya, serta para pelaku UMKM di Indonesia. Melalui penyelenggaraan  program TOT dan PDP di Medan, HSBC dan PSF bertujuan untuk membekali para dosen dan profesional yang ada di Sumatera Utara dengan pengetahuan dan wawasan bidang keuangan dan perbankan yang aktual dan tepat guna, terlebih dengan adanya dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Nasional.

Medan merupakan kota penghubung yang strategis, serta penyumbang inflasi terbesar kedua setelah Jakarta, dengan pola konsumsi dan kemampuan daya beli masyarakat yang tinggi. Untuk itu, partisipasi dari para dosen, professional dan pelaku UMKM pada program ini juga diharapkan dapat berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat di wilayah tersebut.

Dia mengaku, tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas mumpuni dengan jumlah yang mencukupi di bidang perbankan merupakan tantangan yang harus segera  direspon, terutama untuk mengatasi persoalan-persoalan yang kerap didorong oleh kesenjangan pengetahuan dan referensi, serta literasi keuangan yang belum mencapai tingkat yang diharapkan. “Professional Development Program dan Training of Trainers yang kami selenggarakan merupakan bagian dari mata rantai yang utuh dan saling berkaitan dari upaya kami dalam meningkatkan literasi keuangan di Indonesia,” ujar Ari Kunwidodo.

Program Pendidikan Perbankan dan Keuangan yang diselenggarakan HSBC dan PSF melalui Sampoerna University ini juga mendapatkan dukungan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Horas VM Tarihoran  mengatakan, berdasarkan survei yang dilakukan oleh OJK pada tahun 2013, jumlah penduduk dengan tingkat literasi keuangan baik baru mencapai 21,84%. Untuk itu,  OJK selalu menyambut baik dan mendukung program-program edukatif yang bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia, seperti program yang diselenggarakan secara intensif oleh kerjasama antara HSBC dan PSF melalui Sampoerna University ini. “Program ini kami harapkan dapat meningkatkan literasi keuangan masyarakat sehingga mereka akan semakin memahami manfaat dan risiko produk dan layanan jasa keuangan, mengetahui hak dan kewajiban serta meyakini bahwa produk dan layanan jasa keuangan yang dipilih dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya,” imbuhnya.

Program literasi keuangan yang diselenggarakan Sampoerna University ini juga berkorelasi dengan rencana pemberlakuan integrasi keuangan dan perbankan di ASEAN pada tahun 2020 yang tentunya menjadi tantangan sekaligus peluang tersendiri bagi Indonesia untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin perbankan dan keuangan yang handal serta kompetitif dalam tataran yang lebih luas dan tinggi. Ini tentunya hanya dapat terwujud jika masyarakat melalui ujung tombak institusi pendidikan dan pelaku ekonomi yang berada di garis depan memiliki pemahaman yang baik dan tinggi atas pemanfaatan dan penggunaan instrumen perbankan dan keuangan yang ada dan berkembang dalam perekonomian secara luas.

Head of Corporate Sustainability, HSBC Indonesia, Nuni Sutyoko, mengatakan, “HSBC senantiasa mendorong bisnis yang berkesinambungan yang berarti membangun masyarakat dari segi sosial, lingkungan, dan ekonomi. “Kami ingin terlibat dalam pertumbuhan Ekonomi di Indonesia, dan karenanya kami yakin dukungan terhadap tingkat literasi dan inklusi keuangan akan turut membangun masyarakat meningkatkan taraf perekonomian mereka. Kami percaya dengan semakin baiknya tingkat literasi keuangan akan membantu mewujudkan cita-cita untuk meningkatkan kesejahteraan pada khususnya, sekaligus membantu percepatan pembangunan ekonomi bangsa pada umumnya,” pungkasnya.