IGJ: APEC Itu Arisan Orang Kaya Dunia

26

JAKARTA-Pertemuan Asia Pacific Economic Community (APEC)  2013 yang digelar  di Nusa Dua, Bali  tidak akan memberi dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.  Pertemuan  itu justru semakin memperparah ekonomi Indonesia. “APEC ini tidak lebih dari arisan orang-orang kaya dunia dan tidak memiliki legitimasi apapun,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia Global Justice (IGJ) M Riza Damanik dalam media briefing ‘APEC dan Potensi Ancaman Bagi Kedaulatan Indonesia’ di Jakarta, Senin (23/9).

Seperti diberitakan, pertemuan APEC ini akan digelar  pada 1-8 Oktober 2013 di Bali.

Menurut dia, pertemuan APEC itu hanya akan membicarakan kepentingan negara-negara kaya dunia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam negerinya sendiri. Bagi Indonesia sebenarnya sama sekali tidak memiliki kepentingan dalam APEC. Sebab, pertumbuhan ekonomi dalam negeri cukup bagus. Negara industri majulah yang sebenarnya memiliki kepentingan langsung dalam APEC. “Sejatinya, negara-negara yang berkepentingan pada pertumbuhan ekonomi bukan kita, tetapi Amerika, Eropa, China dan lain-lain yang berbasis industri. Karena pertumbuhan ekonomi mereka melamban,” kata dia.

Riza menegaskan, forum APEC tidak lebih dari alat pemaksaan kepentingan negara industri untuk membangun ekonominya yang saat ini sedang tidak stabil. ” Jadi, forum APEC ini tidak lebih mendorong dominasi penguasaan sumber daya alam oleh pemodal asing. Mereka hanya ingin memastikan pasar masih terbuka, agar industrinya dapat tetap berjalan,”  papar Riza.

Dia menilai, kondisi perekonomian Indonesia tidak menunjukkan kondisi positif dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Sejak 2008 hingga 2013, neraca perdagangan Indonesia selalu dalam keadaan defisit. “Kondisi ekonomi Indonesia memburuk sejak 2008, dan paling parah tahun in. Tercatat, defisitperdagangan Indonesia  sejak  Januari-Juli 2013 sebesar -5,56  miliar dollar Amerika Serikat (AS),” jelas dia.

Situasi ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi terpuruk saat ini, namun pemerintah dituding tidak membuat langkah taktis untuk memperbaiki kondisi ini.  Justru yang terlihat, nafsu pemerintah untuk menarik utang baru tidak pernah di rem. “Utang luar negeri Pemerintah Indonesia hingga 123,992 miliar US$ per Juni 2013,” tutur dia. “Pemerintah haruslah memperbaiki gejolak ekonomi yang saat ini belum mengalami perbaikan,” ucap Riza.

Riza menilai, perekonomian nasional tengah dilanda depresiasi yang menyebabkan daya beli masyarakat makin lemah. Namun anehnya, bukan memperkuat ekonomi nasional, pemerintah justru berencana menjaga pasar dalam negeri tetap terbuka. “Seharusnya depresiasi itu harus diimbangi penguatan ekonomi yang ada di dalam negeri,” jelas Riza