Indonesia Mesti Belajar Holding BUMN ke China

68
Ketua Umum FSP BUMN Bersatu Arief Poyuono

JAKARTA-Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), menggandeng konsultan nasional dan internasional untuk proses persiapan pembentukan holding perusahaan pelat merah. Untuk lokal, Kementerian BUMN mengajak Mandiri Sekuritas, sedangkan konsultan internasional adalah McKinsey&Company dari Amerika Serikat (AS). “Sebenar kalau untuk persoalan pengelolaan Holding BUMN didunia yang sangat berhasil justru negara China. Negara tirai bambu ini berhasil melakukan holding BUMN hingga yang tadinya State Owned Enterprise  berubah menjadi  sistim  State Capitalism,” ujar Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja  (FSP) BUMN Bersatu Arief Poyuono di Jakarta, Senin (15/8).

Kemampuan China mengelola holding BUMNnya sudah  terbukti. Terbukti, kinerja  BUMN AS kalah dibandingkan  BUMN di China.  Salah satu indikasinua, BUMN di China dalam sistim State capitalism lebih bagus kinerjanya dalam menopang pertumbuhan ekonomi China dalam 15 tahun terakhir . Jadi saran saya tidak ada salahnya ‘belajar BUMN sampai ke negeri China,” tuturnya.

Keputusan pemerintah menggunakan jasa konsultan AS memang dipertanyakan, terutama biaya yang dikeluarkan sangat besar.

Namun kata Arief lagi,  masalah mahal atau tidak mengunakan konsultan dari AS untuk pembentukan holding BUMN baru bisa dinilai saat holding BUMN itu sudah terbentuk. “Kita akan melihat kinerja yang dihasilkan BUMN hasil holding nanti,” tuturnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN, Rini Soemarno menggandeng jasa konsultan nasional dan internasional untuk proses persiapan pembentukan holding perusahaan pelat merah.
Persiapannya jalan terus. Bahwa kita kan sudah pakai independent companies seperti Mandiri Sekuritas, kita juga pakai McKinsey untuk membantu kita mengenai holding ini. Jadi itu semua sudah siap,” ujar Rini.