IPO Sinarmas MSIG Life Sebesar 40% dari Modal Disetor

29

JAKARTA-PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk. (“Perseroan”), perusahaan yang bergerak di bidang asuransi jiwa termasuk usaha dengan prinsip Syariah, melaksanakan Due Diligence Meeting dan Paparan Publik (Public Expose) dalam rangka Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO). Dalam aksi korporasi ini, PT Sinarmas Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi.

PT Sinar Mas Multiartha Tbk. selaku pemegang saham Perseroan, akan menawarkan saham yang dimilikinya sebanyak-banyaknya sebesar 420.000.000 (empat ratus dua puluh juta) saham kepada publik. Jumlah tersebut setara dengan 40% (empat puluh persen) dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah IPO.

Presiden Direktur PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk, Hamid Hamzah mengatakan tidak terdapat penggunaan dana dalam IPO ini dikarenakan tidak adanya penerbitan saham baru, melainkan divestasi pemegang saham lama milik PT Sinar Mas Multiartha Tbk.

“Masa Penawaran Umum Perdana Saham PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk. akan dilakukan pada 1-3 Juli 2019. Adapun penawaran awal dimulai pada 20-21 Juni 2019,” ujarnya saat keterangan pers usai acara Due Diligence Meeting dan Public Expose, Kamis (20/6).

Saham PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk. bernominal Rp100 per saham itu direncanakan akan dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 09 Juli 2019. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan akan menerbitkan pernyataan efektif untuk IPO ini pada 28 Juni 2019.

Pada 2018, premi bersih Perseroan tercatat sebesar Rp4,35 triliun, naik dari Rp3,797 triliun pada 2017. Sementara total pendapatan mencapai Rp5,094 triliun. Dari pendapatan tersebut, Perseroan membukukan laba Rp342,536 miliar pada 2018.

Untuk tahun 2019, premi bersih Perseroan ditargetkan mencapai Rp6,287 triliun. “Ke depan, premi bersih Perseroan diperkirakan terus naik masing-masing menjadi Rp6,342 triliun dan Rp7,229 triliun pada 2020 dan 2021,” katanya.

Sementara itu, aset Perseroan tercatat Rp15,554 triliun pada 2018