KTT ASEAN Bahas 3 Agenda Utama

29

BANDAR SRI BEGAWAN- Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri KTT ASEAN ke-23 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. KTT ASEAN kali ini membahas tiga agenda utama, yakni upaya perwujudan ASEAN Economic Community pada tahun 2015, peningkatan peran-serta ASEAN dalam proses integrasi ekonomi regional dan global dan penguatan kelembagaan ASEAN agar semakin mampu merespon dinamika regional dan internasional.

Pembahasan dalam KTT ASEAN sangat sejalan dengan semangat yang dibangun oleh Indonesia dalam kerjasama APEC maupun G20 serta forum internasional lainnya, yakni mendekatkan berbagai kerjasama ini kepada masyarakat sambil terus memperkuat keterlibatan Indonesia dalam berbagai forum internasional.

Presiden SBY mengatakan empat hal yang harus menjadi perhatian khusus ASEAN. Keempat hal dimaksud adalah mengkonsolidasikan pembentukan ASEAN Community, memperkuat kepemimpinan ASEAN untuk menegakkan perdamaian, kesejahteraan dan keamanan di kawasan, berkontribusi secara positif pada masalah-masalah global dan mewujudkan kesejahteraan bersama ASEAN sebagai sebuah komunitas.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menambahkan,para pemimpin termasuk Presiden RI sepakat bahwa ASEAN harus dapat mewujudkan ASEAN Community pada tahun 2015 yang merupakan visi yang dibangun berdasarkan ‘Bali Concord II’ tahun 2003, dan perlu mempersiapkan perjalanan ASEAN pasca-2015.“Secara khusus para Pemimpin ASEAN sepakat dengan target aspiratif ASEAN pada tahun 2030 yang diusulkan oleh Presiden RI, yakni mengurangi hingga setengah indeks angka kemiskinan ekstrim di ASEAN, dan menggandakan atau ‘doubling’ total PDB ASEAN dari 2,3 trilyun dollar menjadi 4,6trilyun dollar,” lanjutnya.

Kiprah ASEAN dalam proses integrasi regional dan global mendapatkan perhatian khusus para Pemimpin. ASEAN harus lebih pro-aktif dan forward-looking dalam mengembangkan kerjasama dengan negara-negara sahabat sambil tetap menjaga sentralitas ASEAN sebagai hubdi kawasan yang tumbuh pesat ini.

Sejumlah Pemimpin ASEAN menyambut baik prakarsa yang dikembangkan ASEAN pada tahun 2011 dan 2013 untuk mewujudkan Regional Comprehensive Economic Partnership atau RCEP bersama enam mitra FTA ASEAN, dan mencatat perkembangan perundingan RCEP yang baru saja memyelesaikan perundingan putaran kedua tanggal 23–27 September 2013 di Brisbane, Australia. “Para Pemimpin ASEAN merasakan bahwa sementara sistem perdagangan multilateral di bawah WTOmerupakan platform yang harus terus dipertahankan dan isempurnakan, ASEAN tidak dapat melepaskan diri dari realitas bahwa berbagai skim bilateral dan regional bahkan antar-regional terus berkembang. Dalam konteks ini, apa yang sedang dikembangkan ASEAN melalui RCEP merupakan proses alamiah yang perlu dikedepankan,”tegas Gita Wirjawan.“Setelah Masyarakat Ekonomi ASEAN terbentuk pada tahun 2015 maka langkah berikutnya adalah mengkonsolidasikan skim ASEAN Plus One yang sudah ada saat ini menjadi satu. Jadi tidak benar bahwa RCEP dirundingkan karena negara lain di kawasan merundingkan TPP. RCEP adalah proses alamiah bagi ASEAN,” lanjut Gita Wirjawan.

Menghadapi dinamika kawasan dan global yang meningkat, dan seiring dengan aspirasi ASEAN sendiri untuk berintegrasi dengan masyarakat dunia, para pemimpin juga menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan ASEAN. Dalam kaitan ini, para Pemimpin ASEAN sepakat bahwa kapasitas Sekretariat ASEAN, yang berkedudukan di Jakarta, perlu ditingkatkan agar mampu memberikan dukungan riset dan manajemen yang lebih memadai kepada ASEAN yang sejak Desember 2008 telah menjadi organisasi berbadan hukum berdasarkan Piagam ASEAN 2007.