Menlu Retno: Tidak Ada Pembicaraan Pembelian Sukhoi

Menlu Retno: Tidak Ada Pembicaraan Pembelian Sukhoi

0
BERBAGI
Presiden Jokowi berjabat tangan dengan Presiden Putin (18/5).

RUSIA-Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi memastikan pertemuan antara Presiden Jokowi dan Presiden Vladimir Putin,Rabu  (18/5), tidak membahas secara khusus mengenai rencana pembelian pesawat tempur Sukhoi dari Rusia. Hal itu ditegaskan Menlu menjawab isu yang beredar bahwa Indonesia membeli atau memborong pesawat tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia. “Jadi saya perlu klarifikasikan bahwa sampai detik ini, pada detik ini, peristiwa (pembelian Sukhoi Su-35) itu tidak ada, karena masih ada beberapa hal yang harus kita selesaikan,” demikian disampaikan Retno usai mendampingi Presiden Jokowi bertemu dengan 4 CEO Perusahaan terkemuka Rusia, di Radisson Blu Hotel, Sochi, Rusia, Kamis (19/5).

Menlu mengungkapkan dalam pertemuan bilateral antar kedua kepala negara hanya membahas kerjasama pertahanan dalam konteks yang lebih luas. “Tidak hanya mengenai masalah pembelian alutsista,  tetapi hal-hal lain yang terkait kemungkinan transfer of technology, pengembangan sumber daya manusia, dan lain-lain,” terang Menlu.

Selain kerjasama pertahanan, lanjut Menlu, pertemuan bilateral juga membahas kerja sama di bidang perdagangan, investasi, pariwisata, investasi infrastruktur, maritim, dan lainya.

Sebelumnya, Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin, dalam pernyataan bersama dengan Presiden Joko Widodo usai mengadakan pertemuan bilateral antar kedua negara, mengungkapkan bahwa Indonesia dan Rusia memiliki hubungan yang sangat dekat dan sudah terjalin sangat lama. “Hubungan ini berawal dari sikap yang ditetapkan oleh Presiden pertama RI Bapak Soekarno yang merupakan teman sejati untuk negara kami,” ujar Putin di kediamannya Bucherov Rucey, Sochi, Rusia.

Dalam pertemuan, kedua Kepala Negara mengenang 60 tahun yang lalu, di tahun 1956, Proklamator Indonesia berkunjung ke Sochi untuk mengadakan perundingan dengan pimpinan Uni Soviet.

Presiden Putin menyampaikan bahwa pertemuannya dengan Presiden Jokowi sangat konstruktif dan lengkap baik dalam pertemuan empat mata maupun pertemuan antar delegasi yang membahas seluruh agenda bilateral.

Terkait kerja sama perdagangan, meski mengakui adanya penurunan volume perdagangan bilateral di tahun 2015, Presiden Putin mengungkapkan adanya dinamika yang sangat baik di awal tahun  2016 dimana volume perdagangan meningkat hampir 14% di tiga bulan pertama. “Saya sangat berkeyakinan bahwa yang diperlukan bukan hanya melanjutkan hubungan bilateral, tapi membutuhkan dorongan baru untuk tingkatkan interaksi,” kata Presiden Putin.

Presiden Putin juga mengakui ada dorongan kuat untuk meningkatkan kerja sama bersama dengan meningkatkan pertukaran misi dagang dari pengusaha kedua negara. Bahkan dalam pertemuan itu, Presiden Putin dan Presiden Jokowi sepakat untuk memberi dukungan sistematis bagi pengusaha dua negara dengan diciptakan syarat-syarat menguntungkan. “Telah juga dibahas gagasan didirikan zona perdagangan bebas,” ucap Presiden Putin.

Rusia, ucap Presiden Putin, siap mendukung Indonesia untuk mewujudkan program Presiden Jokowi dalam membangun infrastruktur berskala besar, seperti jalur kereta api di Kalimantan dan pembangunan prasarana masa depan, serta rencana untuk mengembangkan jenis pertambangan seperti di nikel, dan lain-lain. “Pihak  Rusia juga tertarik dalam  pengadaan berbagai jenis kapal, termasuk kapal dan berbagai jenis pelabuhan terapung,” ucap Presiden Putin.

Presiden Putin juga menyampaikan ada juga peluang luas untuk meningkatkan kerja sama di bidang energi seperti rencana pembangunan industri perminyakan di Bali dengan investasi 13 miliar USD serta pembangunan listrik dengan  dengan kapasita 1,8Gigawatt dengani nilai investasi 2,8 miliar USD.

Presiden Putin juga mengungkapkan upaya untuk terus meningkatkan people to people contact dari kedua negara dimana saat ini di Rusia terdapat 100 mahasiswa Indonesia. “Untuk tahun depan, diberikan 100 beasiswa lagi,” ucap Putin.

Dalam pertemuan bilateral, lanjut Putin, juga  sempat dibahas sejumlah isu bilateral dan global antara lain di bidang penanggulangan terorisme dan seterusnya. “Ada koordinasi baik dari kedua negara untuk pencegahan ancaman tersebut dan sepakat memperkuat dan memperluas badan ketahanan kedua negara itu,” pungkas Presiden Rusia Vladimir Putin