MPR Apresiasi Kinerja Presiden Jokowi

MPR Apresiasi Kinerja Presiden Jokowi

0
BERBAGI

JAKARTA-Majelis Permusyawaratan Rakyat memberi apresiasi kepada Presiden Jokowi, karena sebagai pemimpin negara baru kali ini ada presiden yang bersedia blusukan ke daerah-daerah terpencil khususnya di daerah-daerah perbatasan dan ketika terjadi kebakaran, gunung merapi, kebanjiran, dan sebagainya. Bahkan beliau memilih berbuka bersama masyaratat dibanding dengan para pejabat tinggi yang lain.
“Jadi, baru pada kali ini ada Presiden RI yang bersedia blusukan ke daerah bencana. Baik kebakaran, gunung merapi, kebanjiran dan sebagainya,” kata Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta Odang dalam sambutan buka puasa puasa bersama di kediamannya itu di Jakarta, pada Jumat (24/6/2016) malam.

Bahkan, kata OSO sapaan akrabnya, Presiden Jokowi lebih memilih berbuka bersama masyarakat daripada di tempat pejabat tinggi negara yang lain. “Karena itu harus didukung pemerintahan ini untuk mensejahterakan rakyat,” ujarnya.

Dengan hadirnya ratusan orang ke rumahnya tersebut, Oesman Sapta tidak bisa menyampaikan kata-kata selain hanya berterima kasih, bersyukur, dan semoga Allah SWT yang membalas kedatangan bapak, ibu, dan suadara semua. “Kemarin saya buka puasa dengan 500 anak yatim, semoga Allah SWT yang membalas kebaikan semuanya,” tuturnya singkat.

Hadir antara lain Presiden Jokowi, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Wakil Ketua MPR Mahyudin, Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto, Panglima TNI Gatot Nurmantiyo, Irjen Pol Drs Boy Rafli Amar (mantan kapolda Banten), anggota MPR dan masyarakat.

Dalam acara buka puasa bersama tersebut diisi taushiyah oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof Dr Nazaruddin Umar menjelaskan esensi pesantren surat Al-Baqarah (67) khususnya terkait “ngeyelnya” Bani Israel di bawah kepemimpinan Nabi Musa AS. Di mana di dalam Al-Quran tersebut kata Israel disebut sebanyak 62 kali dan cenderung negatif atau buruk.

Menurut Nazaruddin, dalam Al-quran itu Allah swt sudah mempunyai maping, pemetaan-pemetaan kehidupan social, geopolitik, geo spiritual, geo psikologis dan seterusnya. Hanya saja ada satu bangsa yang terlalu maskulin, ngeyel dank eras kepala di dunia ini, yaitu Bani Israel, yang terlalu mengandalkan rasionalitas. Karena itu dalam hidup ini selalu ada persaingan. Misalnya yang benar dan yang bathil, baik dan buruk, dan sebagainya, namun kebenaran yang akan menjadi pemenang. Tak terkecuali Fir’aun.

Bani Israel dan Fir’aun adalah dilahirkan dimana tempat kitab suci Yahudi, dan Kristen diturunkan, di Palestina (Masjidil Aqsho), dan Al-Quran tepatnya di Makkah dan Madinah, Timur Tengah. Tapi, justru di tempat Itulah yang menjadi perhatian Allah SWT.

Masyarakat yang terlalu banyak bertanya dan over kritis kata Nazaruddin, adalah orang yang tidak pernah bersykur kepada Allah SWT, sehingga hidupnya tidak tenang, tidak nyaman, dan tidak tentram. Seperti kasus sapi betina (Al-Baqorah) yang terus ditanyakan dari ujung rambut sampai ujung kaki, hanya untuk disembelih.

Dengan demikian kata Rektor Institut Pergurun Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta itu, kenapa Al-Quran tidak diturunkan di Indonesia? “Karena masyarakat Indonesia cukup hanya dengan seorang ustadz (guru agama) saja semua bisa taat, patuh, berakhlak mulia, ramah, dan saling menghormati satu sama lain sebagai warga bangsa.
“Untuk itulah Indonesia menjadi perhatian yang luar biasa dunia internasional, karena toleransinya yang besar dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Padahal, Indonesia pendudukanya mayoritas beragama Islam, tapi damai dan tidak ada pertumpahan darah, dan apalagi saling membunuh seperti di Timur Tengah. Maka, itulah yang harus kita rawat bersama,” tutur Guru Besar UIN Syahid Jakarta itu.

Dengan demikian Nazaruddin mengajak kita semua untuk selalu bersyukur menjadi bangsa Indonesia, yang tidak keras kepala. “Sebagai bangsa yang besar  ini kita bangga, dan ini harus dipelihara ,rawat, dan jaga bersama untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan,” pungkasnya.