Netizen Minta Pemerintah Bantu UKM Parcel  

28

JAKARTA-Kebijakan pemerintah melarang pejabat menerima parsel membuat pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang menggeluti bisnis ini kena imbas dan banyak yang merugi.

Kondisi ini membangkitkan simpati para netizen dengan memberikan dukungan kepada UKM parcel di Indonesia, menjelang Idul Adha 1437 H dan Natal 2016 ini.2

Dan dukungan netizen terus bergulir dan tidak terbendung. Hingga Jumat sore (12 Agustus 2016), dukungan terus berdatangan sampai menjadi trending topic di Twitter dengan tagar #SaveUKMParcelIndonesia.

Netizen menolak kebijakan larangan parcel karena dianggap mematikan pedagang parcel, terutama pedagang kecil dan UKM. Padahal, netizen mengganggap pemberian bingkisan atau parcel sudah menjadi tradisi dan tidak berniat buruk.

“ Parcel kan kebnyakan isinya makanan , kok dilarang sih? Iya klo isinya bo* gitu larang aja #SaveUKMParcelIndonesia” tulis akun
@choliz093.

“Semoga UKM Parcel bisa terus menjalankan bisnisnya tanpa ada regulasi yang memberatkan #SaveUKMParcelIndonesia: tulis akun @Vicend22.

Sementara itu, pedagang parsel yang berjualan di Jalan Pegangsaan Timur, Cikini, Jakarta Pusat mengatakan terdapat penurunan omzet hingga 50 persen bila dibandingkan sebelum ada larangan dari pemerintah soal parsel.

“Saya sudah berdagang 20 tahun, setiap menjelang Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan tahun baru, selalu menjual parsel. Penurunan terasa sejak ada larangan pejabat menerima parsel beberapa tahun lalu,” kata Tries, salah satu pedagang parsel, di Jakarta saat diwawancara.

Tries mengatakan saat ini dia dan beberapa penjual lain hanya bergantung pada masyarakat umum yang membeli parsel, kebanyakan untuk kerabat atau saudara. Ada pula beberapa perusahaan swasta yang rutin memberikan parsel untuk rekan bisnisnya.‎

“Berjualan parsel sekarang tidak seperti dulu. Belum lagi kekhawatiran kalau kami tiba-tiba dilarang berjualan di sini. Padahal, sejak dulu pedagang parsel menjadi ikon untuk Cikini,” tuturnya.

Hal senada diucapkan oleh Riyanti. Meskipun hanya menjaga dagangan milik orang lain, Riyanti mengaku sudah lama berjualan parsel. “Sehari cuma ada lima hingga enam orang pembeli. Ada yang langsung beli ada juga yang pesan dulu. Kalau dulu, sehari bisa sampai 20 orang,” katanya.

Terdapat berbagai macam jenis parsel yang dijual di kawasan tersebut, tepatnya di depan Stasiun Cikini. Selain parsel berisi makanan dan minuman kemasan, juga ada parsel berisi barang-barang pecah belah dan kaligrafi.‎
***