Nilai Tukar: Pada Dasarnya Sulit Membuat Dolar AS Turun

13

JAKARTA-Pasar mata uang asing dunia terperangkap di antara dolar AS, yang terbebani harapan pemangkasan suku bunga Bank Sentral AS dan risiko depresiasi lanjutan yuan Cina, yang dipicu oleh tarif. Pada akhirnya, depresiasi yuan Tiongkok lebih penting daripada penurunan suku bunga Bank Sentral AS.

Philip Wee, FX Strategist DBS Group Research menjelaskan penurunan suku bunga AS sebanyak dua kali pada September dan Desember untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan pelemahan mata uang, yang dipimpin depresiasi yuan dan euro.

Sisi lain, ekonomi AS sehat namun tidak kebal terhadap risiko global, seperti, peningkatan ketegangan dagang dan kegagalan mencapai kesepakatan terkait Brexit, yang membahayakan Zona Eropa, yang rapuh.

Presiden AS Trump mengancam mengenakan tarif pada sisa barang Cina senilai 325 miliar dolar AS jika Presiden Cina Xi tidak menemuinya di KTT G20 pada 28 Juni 2019. Cina membuka kemungkinan depresiasi yuan lebih dari 7 yuan terhadap dolar AS jika itu terjadi.

Pemimpin Tory berikut, yang akan menggantikan Theresa May sebagai Perdana Menteri Inggris, kemungkinan menuntaskan Brexit -keluarnya Inggris dari Uni Eropa- dengan atau tanpa kesepakatan.

Jika Brussels tidak menyetujui permintaan menunda lagi tanggal Brexit, secara hukum, Inggris tetap akan keluar dari Zona Eropa tanpa kesepakatan pada 31 Oktober.

“Oleh karena itu, kami meramalkan penurunan suku bunga AS sebanyak dua kali pada September dan Desember untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan pelemahan mata uang, yang dipimpin depresiasi yuan dan euro,” jelasnya.

Dengan keyakinan bahwa seluruh dunia mungkin melemah lebih dulu dan lebih parah daripada AS, dan dengan dua pemangkasan suku bunga Bank Sentral AS, yang telah diperhitungkan pasar, tidak akan mudah bagi pedagang/spekulan dolar AS, yang pesimistis, membuat dolar AS jatuh tanpa perlawanan.