Pengamat: Darmin Masih Pantas Pimpin BI

38

JAKARTA- Kendati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum menyerahkan nama kandidat Gubernur Bank Indonesia (BI) ke DPR, namun Direktur Currency Management Board, Farial Anwar menilai Darmin Nasution merupakan figur yang masih layak untuk kembali memimpin bank sentral. Pasalnya, Darmin terbukti  berhasil melaksanakan tugas dengan baik.  Salah satu bukti prestasi Darmin adalah berani membuat keputusan dengan menerbitkan PBI Devisa Hasil Ekspor (DHE) agar devisa hasil ekspor dibawa ke dalam negeri yang selama ini sangat sulit diterapkan. “Saya kira, dia (Darmin_red) sangat bagus. Ada kemungkinan dipilih kembali. Apalagi, ini kan baru yang pertama dia  menjabat. Saya rasa, Darmin cukup baik,”  ujar  Farial di Jakarta, Rabu (20/2).

Seperti diketahui, Gubernur BI Darmin Nasution akan mengakhiri masa jabatannya pada Mei mendatang.  Mengacu pada Undang-Undang BI, nama calon tersebut harus diserahkan ke DPR paling lambat tiga bulan sebelum berakhirnya masa jabatan gubernur BI. Artinya, DPR harus sudah menerima usulan presiden paling lambat 22 Februari 2013.

Farial mengaku, tidak memiliki jago yang menjadi gubernur BI. Namun, dia berharap agar Gubernur BI diambil dari figur yang teruji kompetensinya.

Dia menilai, Darmin telah melaksanakan tugasnya dengan baik, terutama keberaniannya menerbitkan PBI Devisa Hasil Ekspor (DHE). Keinginan agar  DHE ini dibawa pulang kedalam negeri sebenarnya lama diusulkan. Namun tidak pernah terealisir. “Dan baru jaman Darmin ini,  aturan DHE ini diterbitkan. Kalau pada akhirnya dia dipilih kembali, saya kira pantas,” kata dia.

Saat ini, sejumlah nama kandidat sudah mulai muncul seperti Fuad Rahmani, Halim Alamsjah dan Agus Santoso. “Saya pikir, sebaiknya dari dalam BI. Halim itu orang yang sudah lama dan sangat paham betul isi perut BI. Prestasinya cukup baik. Dia juga memahami masalah moneter. Karena Indonesia sedang menghadapi perekonomian global yang luar biasa bermasalah. Sehingga dibutuhkan figur yang betul-betul memahami masalah yang dihadapinya.

Bidang moneter kata dia merupakan bidang yang sangat penting karena berkaitan dengan nilai tukar, pengendalian uang beredar, pengendalian suku bunga, inflasi maupun kebijakan moneter lainnya. Jadi, saya melihat, lebih baik kalau pengganti Darmin diambil dari dalam BI.  Halim itu tipikal pekerja keras.  “Kalau saya disuruh memilih, saya pilih antara Darmin dan Halim. Tentu tergantung usulan dari Presiden SBY,” jelas dia.