Pengembangan Industri Garam Butuh Lahan Besar

30
kemenperin.go.id

 

JAKARTA-Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan investor yang ingin membangun industri garam di dalam negeri perlu melakukan pendekatan untuk membebaskan lahan. “Kalau industri, harus bisa bebasin lahan. Kalau lahan tidak terbebaskan, lahan industrinya jadi tidak terbangun. Jadi, tergantung pendekatan, kalau serius mau investasi, pasti ada jalannya,” kata Airlangga di Jakarta, Kamis, (3/7/2018).

Diketahui, beberapa investor yang ingin membangun fasilitas produksi garam, kerap menemui masalah soal pembebasan lahan di daerah.

Airlangga menyampaikan kelangkaan garam yang terjadi akan berdampak pada produksi sejumlah industri yang membutuhkan garam sebagai bahan dasar, misalnya industri kaca. “Dalam Undang-undang perindustrian kan jelas mengatakan pada saat orang melakukan investasi bahan baku kan harus tersedia. Jadi, tidak boleh ada gangguan terhadap bahan baku,” ujar Airlangga.

Untuk itu, lanjutnya, sejumlah kementerian, seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian BUMN tengah berkoordinasi untuk mengatasi kelangkaan garam saat ini.

Sementara itu, Kepala BPPT Unggul Priyanto menyatakan lembaganya menaruh perhatian khusus kepada krisis garam nasional terutama untuk konsumsi dan industri.

BPPT menyebut pembangunan lahan garam terintegrasi yang memudahkan petani panen dengan kadar garam tinggi (hanya 4-5 hari) bisa dilakukan dengan cara membangun reservoir air laut bertingkat dan mekanisasi metode panen. “Perlu juga dilakukan pendirian industri garam multiproduk, selain garam bisa dihasilkan produk bittern untuk industri makanan, minuman, suplemen, maka akan turut menjawab masalah perekonomian,” kata Unggul.

Sebagai upaya meningkatkan produksi garam nasional, perlu dukungan infrastruktur di daerah curah hujan rendah seperti NTT dan Sulawesi Selatan yang bisa dijadikan sentra garam nasional.

Sebelumnya, pemerintah memutuskan menugaskan PT Garam untuk mengimpor 75.000 ton garam konsumsi dari Australia guna memenuhi kebutuhan garam sekaligus menstabilkan harga.

Garam impor ini akan tiba di Tanah Air melalui tiga pelabuhan besar; Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Belawan Sumatra, dan Pelabuhan Ciwandan Banten, 10 Agustus mendatang.

PT Garam juga menunggu hasil panen raya garam bulan ini yang diharapkan bisa menghasilkan 350 ribu ton, dan panen dari petani bisa mencapai satu juta ton sehingga total ada tambahan pasokan garam 1,3 juta ton.