Perdamaian Korea: Six Party Talk Harus Dikocok Ulang

21
Teguh Santosa, Kim Eun Hye (Penerjemah)), Jung Kyu Sung (Presiden Asosiasi Jurnalis Korea) dan Lim Sungnam (Wakil Menlu Korea Selatan)

JAKARTA-Peredaan ketegangan dan perdamaian di Semenanjung Korea sulit tercapai tanpa mengubah cara pandang terhadap konflik yang terjadi sejak pertengahan 1950an itu. Pembicaraan mengenai isu nuklir Korea Utara yang sejauh ini dilakukan enam negara, karenanya dikenal sebagai Six Party Talk, juga sulit diandalkan selagi negara-negara yang terlibat dalam pembicaraan tersebut memiliki agenda lain yang menghalangi terciptanya perdamaian.

Salah satu yang harus dilakukan adalah mengocok ulang Six Party Talk dan memberikan kesempatan kepada negara-negara lain di luar Six Party Talk untuk terlibat dalam pembicaraan.

Demikian dikatakan Ketua bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Teguh Santosa dalam perbincangan di sela-sela makan siang dalam rangka pembukaan Journalist Forum for World Peace di Seoul, Korea Selatan, Senin siang (18/4).

Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Lim Sungnam, menjadi tuan rumah dalam makan siang yang dilakukan di Press Club.

Sekitar 100 wartawan dari 50 negara menghadiri konferensi yang digelar Asosiasi Jurnalis Korea (JAK) setiap tahun itu.

Six Party Talk dimulai pada tahun 2003 lalu, diikuti oleh Korea Selatan, Kora Utara, Amerika Serikat, Federasi Rusia, Jepang dan China. Pembicaraan  damai terhenti pada 2008 setelah Korea Utara menarik diri dan menyatakan tidak percaya lagi pada Six Party Talk.

Saat menyampaikan toast pembuka makan siang, Teguh Santosa mengatakan bahwa dirinya telah berkali-kali mengunjungi Semenanjung Korea, baik Korea Selatan maupun Korea Utara dan menyimpulkan bahwa rakyat Korea berhak untuk mendapatkan Semenanjung Korea yang damai dan bebas dari senjata pembunuh massal seperti nuklir. “Saya pernah menyampaikan dalam konferensi ini dua tahun lalu, agar keanggotaan Six Party Talk dikocok ulang (reshake). Harus dilibatkan negara-negara lain yang memiliki kredibilitas baik di panggung internasional. Dan yang paling penting negara-negara itu tidak memiliki kepentingan langsung dengan kawasan ini,” ujar Teguh Santosa.

Menurutnya, jalan buntu pembicaraan damai lebih disebabkan kepentingan dari negara-negara lain yang terlibat dalam Six Party Talk. “Cina, Amerika, Jepang dan Rusia berkepentingan dengan isu nuklir Korea Utara. Saya khawatir mereka tidak menghendaki peredaan ketagangan bila hasilnya tidak menguntungkan mereka. Bagaimanapun juga Semenanjung Korea adalah titik yang strategis untuk ditinggalkan begitu saja,” demikian Teguh.

Menjawab saran Teguh, Lim Sungnam mengatakan, bahwa yang paling penting saat ini adalah mengubah prilaku Korea Utara yang masih enggan bekerja sama dengan dunia internasional. “Sikap kaku dan keras Korea Utara membuat mereka berhadapan dengan seluruh dunia,” ujarnya.