Pilpres 2019: Apakah Jokowi Lebih Nyaman Berpasangan Dengan Airlangga Hartarto?

75

Oleh: Emrus Sihombing

 

Sejumlah foto yang beredar di sosial media sangat menarik dianalisis dari segi SEMIOTIKA menangkap makna paripurna di balik peristiwa perjumpaan Joko Widodo (Jokowi) dengan Airlangga Hartarto (AH) di Istana Bogor dan di Kebun Raya Bogor, kemarin, Sabtu, 24 Maret 2018.

Sekalipun analisis ini masih belum mendalam, makna pertemuan Jokowi – AH berdasarkan bahasa tubuh, adegan pada peristiwa, jarak posisi, suasana lokasi, warna kostum, hari weekend, gerakan langkah dan suasana komunikasi menarik diungkap.

Menurut saya, makna dibalik komunikasi non verbal tersebut  disajikan berikut ini.

Pada bahasa tubuh dari pertemuan kedua tokoh ini sangat jelas terlihat terjalin relasi yang sangat  komunikatif. Padahal, AH merupakan pembantu presiden di bidang perindustrian di republik ini. Bahasa tubuh dari relasi keduanya menunjukkan tidak ada gap, seperti lazimnya hubungan dua sahabat, tidak seperti antara atasan dengan bawahan.

Adegan pada peristiwa, kedua sosok (Jokowi – AH), tampak sangat bersahabat dan sangat cair. Tidak ada formalistik. Semua mengalir alami sebagaimana dua sahabat berbincang lepas begitu saja.

Jarak posisi diantara mereka berdua sangat dekat. Bila kita perhatikan pada foto, acap kali terjadi jarak yang sangat dekat dari segi ukuran meter. Sebab, semakin dekat jarak, secara sosiologis menunjukkan kedekatan relasi interaksi sosial. Dengan kata lain, tidak ada faktor penghalang dari segi relasi sosial antara kedua tokoh ini.

Suasana lokasi terjadinya pertemuan, yaitu di Istana Negara Bogor dan di Kebun Raya Bogor, menunjukkan bahwa perjumpaan dua sosok suasana santai.

Warna kostum yang dipakai menunjukkan seolah dua sahabat yang lama tak jumpa. Untuk saling menyenangkan sahabatnya, masing-masing mengenakan warna pakaian yang disenangi temannya. Jokowi mengenakan kaus warna kuning, sementara AH memakai kaus warna putih.

Pertemuan berlangsung pada weekend. Ini menunjukkan bahwa hari pertemuan sengaja dilakukan pada saat hari libur, lepas dari tugas dan kepenatan keseharian.  Penyediaan waktu libur yang seharusnya digunakan untuk keluarga (istri atau suami, anak dan cucu) justru digunakan untuk bertemu dengan seorang “sahabat”. Penyediaan waktu semacam ini bertemu dengan “sahabat” dapat dimaknai sebagai suatu perjumpaan yang sangat khusus. Hanya untuk sahabat spesial,  seseorang yang super sibuk, seperti Jokowi, memberikan waktu liburnya bertemu dengan sahabat yang sangat dekat.

Gerak langkah mereka berdua berjalan sejajar beriringan. Mereka  bersama melangkahkan kaki dari satu titik ke tujuan lain. Mereka bersama-sama menuju setiap titik persinggahan. Ini menunjukkan adanya suasana kebatinan yang sama diantara mereka.

Terakhir, namun tidak kalah pentingnya, suasana komunikasi yang terjadi. Pada perjalanan serta setiap persinggahan, kedua tokoh ini berbincang santai, saling memberi pesan dan respon yang sangat hangat, serta acapkali saling memandang satu sama lain ketika duduk maupun sedang berjalan seperti dua sahabat yang sangat dekat dari aspek sosiologis, psikologis dan terutama adanya kesamaan chemistry di antara mereka.

Berdasarkan analisis makna pada simbol non-verbal komunikasi antara dua tokoh sebagaimana diuraikan di atas, tidak berlebihan bila saya mengemukakan sebuah proposisi ilmiah, tampaknya Jokowi lebih nyaman berpasangan dengan AH, pada Pilpres 2019.

Tentu dengan asumsi bahwa faktor-faktor lain ditemukan kesepakatan bersama antar berbagai kepentingan politik pengusung Balon Jokowi – AH pada Pilpres 2019.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner di Jakarta