PNTI: Nelayan Jangan Mengeluh, Ada Jalan Keluar!

27
Ketua Umum PNTI, HE Purnomo saat menjelaskan alat converter yang mampu menjadikan gas melon (3 kg) memiliki kemampuan melaut selama 14 jam

JAKARTA-Ketua Umum Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia (PNTI), HE Purnomo meminta nelayan-nelayan tradisional Indonesia tidak perlu mengeluh terkait dengan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) saat akan melaut yang sering dialami kesehariannya. Saat ini, PNTI telah berhasil melalui risetnya membuat alat converter yang menjadikan gas elpiji melon (3 kg) dapat digunakan untuk melaut selama 14 jam. “Jika menggunakan alat converter ini, hal itu berarti menghemat 25 liter BBM,” ujar Purnomo dalam acara halal bihalal di Jakarta, Sabtu malam (30/7).

Dalam halal bi halal tersebut,  Purnomo juga memperagakan  cara kerja mesin converter tersebut kepada para hadirin.  Hadir dalam acara tersebut antara lain Perwakilan Papua, Papua Barat, Maluku Utara, Sulwaesi, Indramayu dan Pandeglang. Hadir juga para tokoh PNTI termasuk Dewan Pembina   Laksda TNI (Pur) Heru Srihanto, Dewan Penasehat Mayjen TNI (Pur) O. Sudjatmiko serta AM Putut Prabantoro dan perwakilan BPJS pusat Haryani.

Purnomo menegaskan, masalah utama yang dihadapi nelayan tradisional dalam melaut adalah kelangkaan BBM karena sulit didapat. Kelangkaan BBM ini seharusnya dapat diatasi dengan menyediakan pasokan yang cukup mengingat nelayan tradisional harus beberapa hari di laut untuk mendapatkan tangkapannya. “Namun kita semua tahu, bahwa penyediaan stok yang cukup itu mempunyai kendala dan itu sudah terjadi bertahun-tahun. Sehingga adalah penting bagi sebuah organisasi nelayan untuk membantu para anggotanya untuk ikut menyelesaikan persoalan dasar yang dihadapi,” ujar Purnomo.

Menurutnya, sebagai organisasi PNTI memang memiliki tujuan utama meningkatkan kesejahteraan nelayan. Kesejahteraan itu harus dicapai dalam proses hulu dan hilir termasuk di dalamnya adalah meningkatkan kesejahteraan melalui penghematan BBM. Dan, penemuan alat converter ini menguntungkan para nelayan yang hanya membutuhkan beberapa gallon gas melon untuk melaut. “Saya merasa yakin bahwa alat ini akan membawa meningkatkan kesejahteraan para nelayan tradisional. Meski dalam penyempurnaan, namun alat ini sudah diuji coba di lembaga riset PNTI. Berharap bahwa alat ini juga akan membawa nelayan tradisional melaut lebih jauh daripada biasanya,” ujar Purnomo.

Sementara itu, AM Putut Prabantoro menegaskan harus dimulai cara pandang baru bagi nelayan tradisional dalam meningkatkan kesejahteraan. Nelayan tradisional harus belajar sejarah tentang kehebatan  pelaut-pelaut nusantara dan ini akan menjadi alat komunikasi kepada dunia pendidikan.  “Jika PNTI mau menggarap anggotanya untuk melek sejarah, dan menjadi guru alam bagi generasi muda Indonesia, saya kira ini akan mempercepat Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Yang dihadapi dalam menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia adalah budaya, kultur yang sudah lama diabaikan oleh masyarakat Indonesia yang telah beranggapan dirinya sebagai masyarakat agraris saja. Yang bisa mempercepat penularan budaya maritim, budaya kelautan adalah nelayan tradisional ini yang benar-benar hidup karena alam,” tegas Putut Prabantoro, yang juga Staf Ahli (POKJA) BAKAMLA RI Bidang Komunikasi Publik. nelayan2

Heru Srihanto juga menegaskan bahwa kesejahteraan nelayan tidak bisa dicapai hanya dengan menunggu untuk diberi. Nelayan Indonesia harus benar-benar solid dalam membangun jejaring dan juga memperkuat organisasi dalam arti sebenarnya.  “Laut Indonesia begitu luas. Namun kalau laut Indonesia yang begitu luas tidak mampu menyejahterakan nelayannya, berarti ada sesuatu yang harus diluruskan. Indonesia sebagai negara maritim hanya dapat diakui kebenarannya jika para nelayan tradisionalnya sejahtera,” ujar Heru Srihanto.