Presiden Dikomplain Warganet Soal Raisa dan Claudya

108

BANDUNG-Presiden Joko Widodo berorasi dalam puncak peringatan Dies Natalis ke-60 Universitas Padjadjaran (Unpad) di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad, Kota Bandung, Jawa Barat. Dalam pidatonya, Jokowi ikut menyentil isu terhangat di jagat maya belakangan ini yaknii, soal pernikahan artis Raisa Andriana dan Laudya Cynthia Bella.

Presiden mengaku dikomplain warganet soal pernikahan penyanyi cantik Raisa Andriana dan Hamish Daud.

Kocaknya, kata Jokowi presiden dianggap tidak bisa menjaga aset negara, sehingga diambil oleh asing. Setelah dicek, suami Raisa, Hamish memang berasal dari Australia.

“Saya dikomplain mengenai Raisa. Pak Presiden, ini satu lagi aset Indonesia lepas ke tangan asing karena suaminya Australia,” kata Presiden yang disambut gelak tawa undangan, Senin (11/9).

Tak hanya Raisa, Presiden RI konon diprotes oleh netizen di media sosial, usai aktris Laudya Cyntia Bella jatuh ke pelukan seorang pengusaha asal Malaysia Engku Imran.

“Belum saya jawab. Lagi Cyntia Bella dinikahi Malaysia. Dulu enggak bisa, sekarang bisa disampaikan langsung ke pemerintah. Ini keterbukaan informasi dan kita semua harus siap,” kata Presiden.

Jokowi mengingatkan bahwa ketebukaan media sosial harus perguruan tinggi harus antisipasi, dengan menyiapkan sumber daya manusia yang siap bertarung, bersaing dalam kompetisi.

Presiden mengungkapkan bahwa setiap dirinya ketemu dengan pemimpin negara selalu ditanya tentang keadaan media sosial di Indonesia.

“Ketemu presiden raja, semua tanya, Presiden Jokowi bagaimana sosmed di Indonesia kejem ndak?” ungkapnya.

Presiden mengatakan bahwa negara masih bisa mengendalikan media, tapi tak bisa medsos.

“Media `mainstream` bisa dikendalikan, tapi medsos tak bisa. Hampir semua negara tak bisa kendalikan ini, yang agak jauh Iran menyampaikan kepada saya, medsos lebih buruk karena menyampaikan semuanya di medsos, di kita juga sama,” paparnya.

Presiden mengatakan hal-hal yang jelek-jelek di medsos harus diantisipasi, terutama berkaitan fitnah, berita bohong.

“Inilah, yang harus dihentikan. Sehingga kita pakai media sosial itu untuk hal-hal positif. “Inilah yang harus kita arahkan,” ujarnya.

Presiden Jokowi menekankan, agar Universitas mengantisipasi keterbukaan yang disampaikan melalui media sosial (medsos). Caranya, dengan menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk bersaturang, dan bersaing dalam kompetisi.

Presiden lantas menceritakannya pengalamannya bertemu dengan mantan Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron, yang terpaksa lengser karena kalah dalam referendum soal Brexit (British Exit) dari Uni Eropa.

Menurut Presiden, saat referendum soal Brexit itu, Pemerintahan PM Cameron kalah, ternyata karena media sosial mempengaruhi. Demikian juga saat Pemilihan Presiden di Amerika Serikat, dimana semua medsos katakan Hillary unggul atas Trump, namun akhirnya juga berubah.

“Inilah yang mestinya Unpad memiliki fakultas medsos, jurusannya meme. Kenapa tidak? Animasi, kenapa tidak? Ke depan itu nanti yang akan kita hadapi,” tutur Presiden.