Presiden: Kita Hormati Pilihan Pemilik Suara Partai Golkar

Presiden: Kita Hormati Pilihan Pemilik Suara Partai Golkar

0
BERBAGI

KORSEL-Meskipun sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan (Korsel) sejak Minggu (16/5) lalu, Presiden Joko Widodo tetap memberikan perhatian terhadap perkembangan Munas Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar. Pada Selasa (17/5) ini, Munaslub Golkar telah memilih mantan Ketua DPR-RI Setya Novanto sebagai Ketua Umum baru menggantikan Aburizal Bakrie (Ical).

Presiden menegaskan, pemilihan Ketua Umum dalam Munaslub itu merupakan wilayah Partai Golkar. “Siapapun yang terpilih, sudah merupakan pilihan dari yang memiliki hak suara, baik DPP, DPD, maupun di organisasi massa (Ormas)nya. Semuanya kita hormati pilihan-pilihan yang sudah mereka lakukan,” kata Presiden Jokowi kepada wartawan, di Seoul, Korsel, Selasa (17/5) siang.

Saat ditanya wartawan apakah dengan demikian pemerintah akan segera mengakomodir hasil Munaslub Partai Golkar itu, Presiden Jokowi mengatakan, belum sampai ke sana. “Itu belum bicara,” ujarnya.

Sementara itu, terkait permintaan tidak rangkap jabatan sebagai salah satu syarat calon Ketua Umum Partai Golkar yang disampaikan oleh Menko Polhukam Luhut B. Pandjaitan, Presiden Jokowi mengingatkan apa yang sudah disampaikannya saat pembukaan Munaslub itu, Sabtu (15/5) malam. “Kan sudah saya sampaikan jelas-jelas di dalam pembukaan Munaslub, bahwa silahkan Pak Luhut ngumpulin DPD, Pak Jusuf Kalla (JK) juga silahkan. Karena apa, karena beliau-beliau memang di Dewan Pertimbangan (Wantim) Golkar, Pak JK dulu Ketua Umum Golkar, ya enggak apa-apa. Sudah saya sampaikan, Istana ada dimana kan sudah jelas itu. Enggak usaha saya ulang-ulang,” tegas Presiden Jokowi.

Presiden kembali menegaskan, bahwa pemerintah menghormati semua yang merupakan pilihan dari pemilik suara di Partai Golkar atas hasil Munaslub itu.

Sebagaimana diketahui hasil perhitugan suara dari pemilihan yang dilakukan secara tertutup dalam Munaslub Partai Golkar, di Nusa Dua, Bali, Selasa (17/5) pagi, Setya Novanto memperoleh 277 suara; Ade Komarudin 173 suara; Azis Syamsudin 48 suara; Syahrul Yasim Limpo 27 suara; Airlangga Hartarto 14 suaral; Mahyudin 2 suara; Priyo Budi Santoso 1 suara; dan Indra Bambang Utoyo 1 suara. Sementara 11 suara dinyatakan tidak sah.

Dengan hasil tersebut, sebenarnya Ade Komarudin yang memperolah suara di atas 30% berhak maju ke putaran kedua untuk bersaing dengan Setya Novanto. Namun Ketua DPR itu memilih legowo tidak melanjutkan pemungutan suara, sehingga pimpinan sidang memutuskan Setya Novanto yang memperoleh suara terbanyak pada putaran pertama otomatis terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar 2016-2019.