Rupiah Menguat

80

JAKARTA-Nilai tukar rupiah (IDR) kembali menguat di Rp.9.748 per USD (kurs tengah Bloomberg) kemarin ditengah pelemahan sebagian besar mata uang Asia lainnya tetapi yen menguat tipis menjadi 102,25 per USD.  Rupiah diperkirakan akan dijaga di kisaran Rp.9.740 s.d Rp.9.750 per USD.

Menurut analis valas PT Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, penguatan juga terjadi pada sebagian besar bursa Asia termasuk bursa Indonesia (IHSG) yang ditutup naik 5.089,88 (+0,16%). Indeks global utama masih ditutup naik semalam. Dow indeks menjadi 15.275,7 (+0,4%) sebagai rekor terbaru dan imbal hasil Treasury bond 10 tahun terkoreksi menjadi 1,935% (+0,039).

Pasar Asia masih berpotensi menguat didukung dengan index futurenya yang naik. Namun untuk IDR rawan pelemahan terkait defisit neraca pembayaran pada Q1-2013, tetapi akan relatif terjaga di kisaran antara Rp.9.740 s.d Rp.9.750 per USD. Sementara itu, Neraca Pembayaran (NP) pada Q1-2013 tercatat defisit sebesar US$6,6 miliar, naik dari defisit pada Q1-2012 sebesar US$1 miliar dan surplus pada Q4-2013 sebesar US$870 juta. Defisit tersebut karena transaksi berjalan (TB) defisit sebesar US$5,3 miliar dan neraca modal dan finansial (NMF) defisit sebesar US$1,4 miliar. Defisit TB tersebut mencapai 2,4% dari PDB, memburuk jika dibandingkan dengan Q1-2012 sebesar 1,4% dari PDB tetapi lebih baik dibandingkan Q4-2012 sebesar 3,5% dari PDB. Sedangkan NMF dari investasi portofolio dan langsung masih mencatat surplus, tetapi investasi lainnya defisit yang berasal dari pos uang dan simpanan pihak swasta yang ditransfer ke luar negeri yang sangat besar mencapai US$6,5 miliar. Defisit NP ini membuat posisi  cadangan devisa selama Q1-2013 turun menjadi US$104,8 miliar tetapi masih cukup aman untuk membayar 5,7 bulan impor danutang luar negeri pemerintah.

US Industrial Production turun 0,5% pada bulan April, terendah dalam 8 bulan terakhir. Sektor manufaktur di New York pada Mei ini mencatat penurunan -1,4% karena pemesanan (orders) turun 1,2% dan penjualan yang stagnan. Perlambatan data-data ini sebagai dampak dari ekonomi mitra dagang As terutama zona Euro yang masih resesi. Penurunan ini bisa menurunkan penyerapan tenaga kerja baru. Investor justru merespon positif penurunan data tersebut karena mengantisipasi kemungkinan the Fed masih akan menginjeksi ekonomi sebesar US$85 miliar per bulan untuk mencapai target tingkat pengangguran 6,5% dari posisi sekarang 7,5%, dan inflasi diatas 2,5% dari posisi sekarang 1,5% yoy