Sadar: Data BPS Sulit Diakses di Kabupaten

34

JAKARTA-Anggota Komisi XI DPR, Sadar Subagyo mengeritik data yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat yang ternyata sangat sulit diakses oleh daerah Kabupaten. Hasil searching data BPS, yang dipusat strukturnya sudah bagus, tetapi begitu masuk ke kabupaten, tidak ada lagi data-data itu. Sehingga data-data BPS ini hanya untuk perencanaan makro. “Padahal, kita tau, otonomi itu adanya di kabupaten. Karena itu, saya harapkan struktur data di BPS antara pusat dan daerah itu harus sama,” pinta Sadar  disela-sela rapat kerja Komisi XI dengan Pemerintah untuk membahas pokok-pokok kebijakan fiskal dan makro ekonomi RAPBN 2014, Kamis (20/6).

Hadir dalam raker Menteri Keuangan Chatib Basri, Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida S Alisjahbana, Gubernur BI Agus Martowardojo, dan Kepala BPS Suryamin.

Menurut Sadar, data BPS  sama sekali belum berfungsi untuk daerah Kabupaten. Ini artinya, Kabupaten tidak bisa mengandalkan data dari BPS. Karena data dari BPS sama sekali tidak bisa dipakai untuk Kabupaten, baik kedalamanannya maupun validasinya. “Saya harapkan, yang ada dipusat yang ditampilkan di website BPS, itu di copy sama persis dengan yang ada di daerah dengan  variasi dan jumlah data yang ada.  Jangan datanya nol-nol semua. Karena perencanaan operasional itu 1/3 dari APBN untuk daerah. Nah, kalau daerah tidak didukung data yang akurat, bisa kacau,” tegas dia.

Selain mengeritik buruknya data BPS, politisi Partai Gerindra ini juga mengeritik target peningkatan produksi beras yang ditetapkan pemerintah. “Mendukung surplus 10 juta ton beras di 2014. Ini ada yang aneh. Surplusnya di 2014, tetapi prasarananya juga di 2014. Saya yakin di Bappenas, banyak ahli pertanian,” kata dia.

Sadar mengatakan jika irigasi diperbaki di 2014 maupun prasana pendung peningkatan produksi beras baru diperbaiki di 2014 maka tahun berikutnya baru berproduksi. “Di Kota Purwekerto, bendungannya ada di tengah kota, katanya bisa mengairi 1200 ha, tetapi karena saluran primernya bocor terus sepanjang 20 km maka areal yang bisa dialiri hanya 800 ha. Dan untuk memperbaiki itu membutuhkan waktu setahun. Sehingga kalau ini baru di perbaiki untuk jaringan irigasi 144.000 ha rasanya, sangat tidak mungkin mendukung peningkatan produksi beras di tahun yang sama,” pungkas dia.