Silaturahmi di Rumah Keluarga Tarian Cinta, Romo Budi dan Kiai Budi

86
Ketua Komisi Hubungan Antaragama da Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Romo Aloys Budi Purnomo Pr

SEMARANG-Bila di hari pertama Idul Fitri 1438 H, Ketua Komisi Hubungan Antaragama da Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS), Romo Aloys Budi Purnomo Pr menyertai Mgr Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Semarang dan Kuria KAS bersafari silaturahmi Idul Fitri ke Pengurus Masjid Agung Jawa Tengah, Wali Kota Semarang, Kapolda Jateng, Kang Nahrudin Qaryah Thayyibah Kalibening, Salatiga dan Gus Hanif Ridwan Pondok Pesantren Edi Mancoro, Tuntang maka pada hari kedua Idul Fitri 1438 H (26/6), Romo Budi masih melanjutkan bersilaturahmi ke beberapa tokoh Muslim lainnya.

Antara lain, Romo yang juga diutus Bapak Uskup Agung Semarang sebagai Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata per 16 Juni 2017 lalu itu bersilaturahmi ke Kiai Budi Hardjono di Pondok Pesantren Al-Islah Tembalang; ke rumah tokoh Perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Haji Mulyono Tjandra dan Kiai Haji Zaenuri di Pudak Payung. Kali ini Romo Budi bersilaturahmi bersama beberapa Tim HAK KAS dan Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan.

Di Ponpes Al-Islah, Kiai Budi menyambut Romo Budi penuh keakraban kehangatan bersama seluruh keluarga. Istri dan kesembilan putra-putrinya menerimanya sebagai anggota keluarga “Rumah Tarian Cinta”.

Kiai Budi dikenal dengan Tarian Cintanya, yakni Tarian Sufi. Kali ini Romo Budi dan rombongan tak hanya diterima di salah satu ruang tamu pondok seperti biasanya melainkan diajak naik ke ruang keluarga oleh sebab sudah dianggap sebagai anggota keluarga sendiri.

Bagi Romo Budi, ini merupakan sebuah kehormatan.

Salah satu putra Kiai Budi-Nyai Umi yang bernama Muhammad Syaniq bahkan menyambut kehadiran rombongan dengan menggunakan bahasa Inggris. “Welcome to our family. We are happy to accept Mister Romo Budi in our family. This is the house of loving family!” Kata Syaniq dengan mantab.

Pasutri Kiai Budi-Nyai Umi dianugerahi sembilan anak 7 putra dan 2 putri yakni M. Saiq, M. Syabiq, Iffah, M. Syamiq, M. Syahiq, M. Syaniq, M. Syaqiq, Izzah dan M. Syafiq. Secara bercanda, Syaqiq mengatakan, “Kadang-kadang Abah sampai lupa ini anak yang nomor berapa…, terutama yang cowok sebab wajah dan tingginya hampir sama…”

“Makanya, kalau saya sering keliru dan selalu bertanya nama harap maklum ya Gus. Lah wong Abah saja keliru apalagi saya…” canda Romo Budi.

Menyanyi dan Berpuisi

Sambil mengobrol tentang apa saja terutama terkait dengan kerukunan dan perdamaian, suasana silaturahmi juga ditandai nyanyian dan puisi spontan. Romo Budi memainkan gitar sambil menyanyikan lagu ciptaannya sendiri “Syukur KuasaMu Sempurna”, Kiai Budi mendaraskan puisi spontan di antara nada petikan gitar Romo Budi.

“Ketika cinta memanggil/ pasrahlah bagai gitar ini di tangan Tuhan/ terserah Tuhan memetik dalam dawai-dawai jiwamu/ gitar pasrah di tangan Romo Budi/ Romo Budi bagai gitar pasrah dalam petikan Tuhan itu sendiri/ lahirlah melodi hidup yang indah ..” Begitulah Kiai Budi spontan berpuisi. Dan Romo Budi menjawab “Amin!”

Sesudah itu, Syaqiq memainkan gitar, sementara Romo Budi memainkan saksofon dan Kiai Budi melantunkan dua tembang kesukaannya “Camping Nggunung” dan “Lir-Ilir”. Suasana sungguh indah. Penuh canda, simbol dan praksis obrolan tentang hidup rukun yang nyata.

Tak terasa hampir sehari silaturahmi di Rumah Keluarga Tarian Cinta terjadi. Sesudah itu Romo Budi melanjutkan perjalanan safari silaturahmi Idul Fitri di hari kedua itu.