Supplay Dollas AS ke Pasar Uang Terbatas

43

JAKARTA-Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (16/5) diperkirakan kembali melemah karena respon negatif pelaku pasar setelah melihat langkah pemerintah yang terlalu bertele-tele membuat opsi pengendalian Bahan Bakar Minyak (BBM). “Rupiah diperdagangkan dikisaran 9.740-9.750 per dollar Amerika Serikat (AS),” ujar Direktur Currency Management Farial Anwar di Jakarta, Rabu (15/5).

Dia memperkirakan, tekanan terhadap rupiah akan terus terjadi. Saat ini, supplay dollar AS ke pasar uang tidak seimbang dengan permintaan. Beberapa korporat membutuhkan dollar AS untuk  kepentingan ekspor maupun pembayaran utang.

Selain itu kata dia, dipasar global, dollar AS mengalami penguatan terhadap hampir semua mata uang, baik Euro, Yen termasuk mata uang dikawasan Asia. “Dan dampaknya, rupiah terus mengalami pelemahan,” jelas dia.

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah lebih banyak disebabkan oleh faktor domestik. Pelaku pasar saat ini bersikap wait and see terhadap kebijakan BBM ini, apakah dinaikan atau tidak. “Pasar sekarang binggung dengan kebijakan BBM ini, mulai dari dua harga hingga pembatasan di SPBU. Namun, belum jelas  opsi apa yang ditempuh pemerintah. Jadi, faktor domestik lebih dominan menekan rupiah,” jelas dia.

Akibat ketidakjelasan ini, lembaga pemeringkat S&P menurunkan rating utang Indonesia. Ini terjadi karena kebijakan BBM pemerintah bertele-tele. “Infasi mulai berpotensi naik,” kata dia.

Ketidakjelasan opsi BBM ini memberikan persepsi negatif terhadap rupiah. Indikasinya, berita positif atau negatif yang terjadi dipasar uang tidak memberikan dampak positif bagi rupiah. “Memegang rupiah sudah tidak menarik lagi. Supplay dollar AS ke pasar sudah mulai terbatas,” jelas dia.

Pelaku pasar dalam negeri justru  memegang dollar AS sebagai mata uang yang paling aman. “Neraca perdagangan kita yang masih defisit sehingga pelaku pasar enggan melepas dollar ASnya ke pasar. Dan ini menekan rupiah,” kata dia.

Dia memperkirakan, tekanan terhadap rupiah masih akan terus terjadi. Salah satu indikasinya kata dia, cadangan devisa Indonesia terus melorot. Ini terjadi karena sebagian cadangan devisa ini dipakai  BI untuk melakukan intervensi dipasar uang. “Nggak ada lagi yang mensupplay dollar AS ke pasar uang karena tidak ada lagi yang mau melepas dollar AS,” urai dia.

Namun demikian jelas dia,  BI akan terus mengendalikan rupiah agar  jatuh terlalu jauh. BI akan terus menjaga rupiah dileval psikologis. Sebab jika rupiah sudah menembuh diatas level psikologisnya, pelaku pasar akan panik sehingga menyebabkan rupiah akan terpuruk,” pungkas dia.