Ahok Cocok Jabat Dirut Garuda

JAKARTA-Kedatangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ke kantor Kementerian BUMN baru-baru ini mendapat tanggapan beragam dari berbagai kalangan termasuk kalangan anggota DPR RI.

Berbagai spekulasi pun bermunculan terkait posisi apa yang akan Ahok tempati di BUMN nantinya.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Martin Manurung menyarankan agar Ahok ditempatkan di BUMN yang kurang bagus kinerjanya. 

“Terutama untuk BUMN yang ‘flag carrier’ tapi kinerjanya masih belum memuaskan, seperti Garuda, misalnya. (Garuda) itu contoh BUMN yang ‘flag carrier’, tapi kinerjanya masih harus diperbaiki secara signifikan,” kata Martin saat dihubungi di Jakarta, Rabu (13/11/2019).

Berbeda dengan Martin koleganya di Komisi VI, Anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto mengaku kurang sependapat jika Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok mengisi jabatan direksi PT. Garuda Indonesia.

Baca :  Dana Aspirasi Berpotensi Ditunggangi Cukong

“Sebaiknya saran saya pak Ahok tidak ditempatkan di Garuda karena prestasi di Garuda sudah bagus. Justru Dirut Garuda saat ini mumpuni. Belum perlu Ahok. Ahok cocoknya membenahi BUMN yang kurang bagus kinerja dan performanya,” tegas Bendahara Megawati Institute itu.

Berdasarkan catatannya, ungkap dia, performa, pendapatan maupun kinerja Garuda sangat bagus beberapa tahun terakhir ini.

“Laba sampai September 2019 saja ada kenaikan yang sangat significant. Kenaikan aset dan kenaikan laba Garuda sudah cukup bagus kok. Sebaiknya Ahok di plot untuk BUMN yang sedang sakit karena punya pengalaman menangani kondisi semacam itu,” tandas Politikus PDIP itu.

Untuk diketahui, ungkap dia, dilihat dari laba pendapatan saja dari tahun 2018-2019 laba Garuda cukup menggembirakan.

Baca :  Kades Diminta Gunakan Dana Desa Untuk Ciptakan Inovasi

Dari data yang ada, terang dia, Kenaikan laba Garuda cukup significan sepanjang 2018 sampai 2019.

Dijelaskan Darmadi, berdasarkan laporan keuangan mereka pada kuartal III-2019 Garuda mengantongi laba bersih senilai US$ 122,42 juta atau setara Rp 1,71 triliun (jika mengacu pada kurs Rp 14.000/US$).Diera dirut yang lama tahun 2018 Garuda menderita kerugian 1.6T .

Sementara, lanjut dia, Kenaikan pendapatan usaha dan turunnya beban usaha selama 9 bulan pertama tahun 2019 Garuda mampu mengantongi laba usaha senilai US$ 253,24 juta. Sedangkan untuk total aset perusahaan per September 2019 senilai US$ 4,41 miliar, naik 5,9% dibandingkan dengan total aset per Desember 2018 yang senilai US$ 4,16 miliar.

Baca :  Jenewa Gagal, Bali ‘Dipaksa’ Menghasilkan Konsensus WTO

“Saya kira jika melihat data tersebut patut diapresiasi pencapaian direksi Garuda saat ini. Bayangkan, Hanya satu tahun sejak September 2018. Dari rugi Rp1,6 Triliun menjadi untung Rp1,7 Triliun/September 2019. Inikan pencapaian luar biasa hanya dalam waktu yang sangat singkat,” puji Darmadi.

Untuk itu, menurutnya, Menteri BUMN seharusnya mempromosikan Dirut yang prestasinya baik termasuk Dirut Garuda.

“Kinerja buruk dimasa lalu adalah akibat ulah dirut yang lama. Dirut Garuda saat ini berhasil melakukan Turn Around strategy. sehingga bisa membuat Garuda untung hanya dalam waktu yang relatif sangat pendek,” pungkasnya.