BI Rate Naik 50 Bps Sangat Tepat

JAKARTA- Keputusan Rapat Dewan Gubernur (RGD) Bank Indonesia (BI) menaikan suku bunga acuan Bank atau BI Rate sebesar 50 basis points (bps) menjadi 6,5 persen sudah tepat  karena level policy rate di angka 6 persen sudah tidak sesuai dengan kebutuhan dan realitas perekonomian di dalam negeri.  Sebab dalam praktiknya, bank-bank sudah memberikan bunga deposito sekitar 7 persen, bahkan lebih. “Langkah ini (kenaikan BI Rate sebesar 50 bps) sudah tepat, meski cenderung berani,”  ujar Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Tony Prasetiantono di Jakarta, Kamis (11/7).

Apabila bank-bank umum memberikan bunga deposito sama dengan besaran BI Rate, jelas Tony, maka nasabah akan menarik dananya untuk dibelikan mata uang dollar Amerika Serikat. Hal ini akan memperburuk posisi cadangan devisa (cadev) yang kini sebesar 98 miliar dollar AS. “Jadi, BI Rate memang harus naik, tidak ada opsi lain,” tegas dia.

Namun demikian, lanjut dia, kenaikan sebesar 50 bps dianggap terlalu berani. “Semula saya duga hanya 25 basis poin. Namun, saya duga data terakhir memang memaksa BI harus menaikkan BI Rate secara signifikan, agar tidak terjadi “bleeding” yang lebih besar lagi di cadangan devisa,” kata Tony.

Hanya saja, menurut Tony, kebijakan ini akan berimplikasi pada bank-bank umum yang akan menaikkan suku bunga, sehingga ada risiko kenaikan kredit bermasalah (NPL) dan akan terjadi perlambatan pertumbuhan kredit.

Dia mengungkapkan, kondisi tersebut diperkirakan akan membuat pertumbuhan kredit di bawah 20 persen. “Misalnya bisa 18 persen atau 19 persen. Posisi sekarang 22 persen. Implikasinya, pertumbuhan ekonomi bakal terkoreksi menjadi 6 persen atau bahkan 5,9 persen atau di bawah target 6,3 persen yang disetujui DPR dalam asumsi terakhir APBN-P 2013,” tuturnya.

RDG-BI akhirnya memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis points (bps) dari 6 persen menjadi 6,5 persen. Kenaikan ini sejalan kondisi perekonomian yang belum menunjukkan perbaikan dan perkiraan puncak inflasi akibat kenaikan harga BBM akan tejadi pada Juli ini.  Sementara itu, suku bunga simpanan BI (Fasbi Rate) naik 50 basis points menjadi 4,75 persen dan Lending Rate tetap 6,75 persen.

Gubernur BI, Agus Martowardojo kenaikan suku bunga tersebut ditempuh BI untuk memastikan besaran inflasi di sepanjang 2013 bisa kembali pada lintasan sasaran. “BI akan seksama memantau dan memperkuat langkah-langkah mitigasi kenaikan harga BBM terhadap inflasi. Diharapkan ke depan bisa menekan inflasi sesuai sasaran inflasi 2014,” ujar dia.

Baca :  Teken MoU Dengan APS, BTN Incar Kredit Rp581 Miliar