Defisit Neraca Perdagangan Terus Berlanjut

Tuesday 8 Jan 2013, 1 : 20 pm
by

JAKARTA-Indoesia diperkirakan akan tetap mengalami defisit neraca perdagangan yang hingga November 2012 mencapai 1,33 miliar dolar AS akan berkelanjutan karena ada masalah dalam struktur investasi, konsumsi, dan ekspor. “Saya melihat bahwa defisit neraca perdagangan bukan fenomena jangka pendek tapi jangka panjang,” kata Direktur Economics, Industry, dan Trade (Econit), Hendri Saparini di Jakarta,8/1/2013.
Menurut Hendri, model investasi dan konsumsi swasta nasional semakin mendorong defisit. Sementara pemerintah tidak bisa berharap terhadap ekspor karena hampir 70 % komoditi adalah energi dan bahan baku. “Karena kita ingin membangun hilirisasi industri. Artinya ini ada permasalahan yang sangat besar di satu sisi melakukan hilirisasi yang akan mengurangi ekspor bahan mentah dan energi,” terangnya.
Di sisi lain, lanjutnya, impor akan naik karena ada pola investasi yang semua itu adalah mendatangkan bahan baku dari luar bukan domestik. “Semua investasi haus impor dan munculnya kelas menengah itu juga mereka sangat tergantung kepada produk impor untuk konsumsi,” ujarnya.
Sehingga tren ini akan menjadi cukup panjang dan tidak akan bisa hanya ditahan oleh bank Indonesia agar tidak terganggu nilai tukar, suku bunga dan cadangan devisa Indonesia. “Masyarakat dan pengusaha menunggu apa langkah komprehensif yang akan akan dilakukan oleh pemerintah karena ini akan menjadi tekanan berkelanjutan,” ucap
Terkait dengan penyesuaian harga BBM, ia menegaskan, itu bukanlah solusi yang tepat karena hanya menyentuh kulit luar dari permasalahan, bukan membereskan akar masalah. “Jadi pemerintah harus memberikan solusi yang dapat menyelesaikan akar masalah, yaitu konsumsi BBM bersubsidi yang membengkak,” tutur
Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati mengatakan bahwa defisit neraca perdagangan terjadi karena impor barang modal dan bahan baku yang relatif cukup tinggi untuk mendukung pertumbuhan sektor investasi. “Impor akhirnya naik, terutama bagi impor belanja modal dan bahan baku yang dibutuhkan untuk penguatan industri domestik,” ujarnya.
Namun, ia menyarankan agar penyediaan komponen bahan baku buatan industri domestik dilakukan supaya pemerintah tidak lagi bergantung kepada impor, yang dalam jangka panjang kurang mendukung pertumbuhan ekonomi. “Pertumbuhan sektor industri harus diupayakan dengan ketersediaan bahan baku domestik,” katanya.
Secara kumulatif, terjadi defisit neraca perdagangan pada periode Januari–November 2012 sebesar 1,33 miliar dolar karena laju impor tercatat 176,09 miliar dolar AS dan ekspor 174,76 miliar dolar AS.
Terkait dengan neraca pembayaran, Kementerian Keuangan memprediksi pada triwulan IV 2012 terjadi surplus neraca pembayaran sebesar 3,07 miliar dolar AS sehingga pada 2012 diperkirakan surplus sebesar 60 juta dolar AS. Sementara defisit transaksi berjalan, diprediksi pada triwulan IV mencapai 5,4 miliar dolar AS atau -2,3 % dari PDB sehingga pada tahun 2012 diperkirakan terjadi defisit 21,5 miliar dolar AS atau -2,4 % dari PDB. **can

Don't Miss

Petrus Ingatkan KPK Jangan Genit Main Politik 

JAKARTA-Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus memperingatkan Komisi

OJK Tingkatkan Daya Tahan Sektor Keuangan Terhadap Krisis

SURABAYA-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator sektor jasa keuangan terus