Ekspor Industri Melesat, Apalagi Ditopang Biaya Energi Kompetiti

Sementara itu, pada triwulan I-2019, nilai ekspor dari industri manufaktur mampu menembus hingga USD30 miliar. Capaian ini berkontribusi sebesar 69 persen terhadap total nilai ekspor nasional.

“Artinya, produk-produk manufaktur kita menyumbang devisa yang paling besar. Selain itu juga menunjukkan industri nasional telah berdaya saing di kancah global,” imbuh Haris.

Untuk lebih mendobrak pasar ekspor, Kemenperin telah memiliki peta jalan Making Indonesia 4.0, yang mendorong industri manufaktur nasional agar memanfaatkan teknologi industri 4.0. Upaya ini guna memacu inovasi produk yang berkualitas.

Salah satu sektor yang digenjot untuk mendongkrak nilai ekspornya adalah industri keramik. Namun demikian, Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) berharap mendapatkan harga gas yang kompetitif. Hal ini sesuai Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi.

Baca :  Indonesia Perlu Menarik Investasi Asing dan Domestik

Menurut Asaki, saat ini harga gas untuk industri keramik di Jawa bagian barat USD9,16 per juta metrik british thermal unit (MMBTU). Adapun di Jawa bagian timur harganya USD7,98 per MMBTU dan di Sumatera sebesar USD9,3-10 per MMBTU. Apabila membandingkan di negara tetangga seperti Malaysia, harga gas industri sekitar USD7,85 hingga USD8 per MMBTU, sedangkan Thailand di angka USD8,8 per MMBTU.