Indef: Dana Transfer Daerah Tak Dorong Pertumbuhan Ekonomi

peneliti Indef Enny Sri Hartati dalam dialog kenegaraan "Lambatnya Serapan Anggaran 2015" di Jakarta,

JAKARTA-Dana transfer daerah yang mencapai ratusan triliun rupiah diduga tidak mencapai sasaran yang tepat. Bahkan makin meningkat dana transfer itu, pertumbuhan ekonomi justru menurun.

“Lihat saja pengangguran malah meningkat, ancaman PHK masal sudah terjadi,” kata peneliti Indef Enny Sri Hartati dalam dialog kenegaraan “Lambatnya Serapan Anggaran 2015” di Jakarta, Rabu 2 September 2015.

Enny mengakui memang ada faktor eksternal yang menghambat penyerapan anggaran. Namun apakah ini sangat dominan atau tidak, implikasinya sudah dirasakan oleh rakyat.

“Teman-teman buruh berdemo itu, karena sudah ada sekitra 6000 perusahaan yang lapor melakukan PHK, sementara yang tidak lapor lebih banyak lagi,” paparnya.

Karena itu, kata Enny, meski dana transfer daerah 2015 ini lebih besar, namun tidak akan berdampak dan tidak berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi. “Pejabat daerah malah banyak yang menyalahgunakan dana daerah. Bahkan, banyak dana daerah yang disimpan di bank dan investasi,” tambahnya.

Baca :  Bukan Harga Mati, Isi Perppu Covid-19 Bisa Berubah Jelang Pengesahan DPR

Padahal, sambung Enny, APBN mengalokasikan anggaran untuk pendidikan 20 % dari Rp 2000 triliun, tapi banyak gedung sekolah yang terabaikan dan Kementerian PDT dan Transmigrasi pun baru 5 %. “Jadi, proses penganggaran ini harus dirubah,” ucap dia lagi.

Diakui Enny, program dan teknis penganggaran pembangunan tidak konsisten. Sehingga penyerapan anggarannya bermasalah dan terlambat. Hal itu bisa dilihat dari dilaksanakannya Murembangnas lebih dulu dari Musrembangda.

Seharusnya, kata Enny, Musrembangda dulu yang dilaksanakan, baru kemudian Musrembangnas. Karena Musrembangda akan menjadi basis untuk Musrembangnas.

“Jangan semua diputuskan di meja Jakarta, sementara pelaksanaan APBD di daerah,” pungkasnya. **aec