Industri Otomotif Harus Ciptakan Inovasi

JAKARTA-Pemerintah menempatkan industri otomotif sebagai industri yang diprioritaskan pengembangannya sebagai bagian dari program kebijakan industri nasional. Sebagai upaya mengantisipasi era FTA regional ASEAN dan Asia Timur dewasa ini, industri otomotif Indonesia dituntut melakukan inovasi dalam menciptakan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan pasar baik domestik maupun ekspor. “Apabila kita tidak memenuhi permintaan masyarakat dengan produk otomotif dari dalam negeri, maka pasar dalam negeri akan dibanjiri dengan produk impor. Dan sebaliknya, peluang pasar bebas harus dapat kita manfaatkan agar produk otomotif yang dibuat di dalam negeri mampu diekspor,”  ujar Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemendag, Hartono dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (15/4).

Untuk itu kata dia, Kementerian Perindustrian telah menjalankan program pengembangan industri otomotif secara simultan. Misalnya jelas dia, program kendaraan angkutan umum murah. ‘Pengembangan kendaraan angkutan umum telah dilaksanakan 10 tahun lalu melalui kebijakan pengenaan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) sebesar 0% untuk kendaraan angkutan komersial seperti pick up, truck dan bus komersial,” imbuh dia.

Dia menjelaskan, program angkutan umum murah (angkutan pedesaan) yang dicanangkan sejak tahun 2010 adalah untuk membuat platform kendaraan angkutan umum (pick up) yang dapat dikonversi menjadi mobil penumpang. Program ini sesuai dengan arahan Presiden yang tertuang dalam PERPRES No. 15 tahun 2010 yaitu pada Klaster IV Program Pro Rakyat, antara lain program kendaraan angkutan umum murah. “Dalam program kendaraan angkutan murah ini Kementerian Perindustrian bersama BPP Teknologi mendesain prototipe platform dan komponennya,” tutur dia.

Lebih lanjut dia menjelaskan, program pengembangan produksi mobil penumpang hemat energi dan harga terjangkau buatan dalam negeri atau yang lebih populer disebut Low Cost and Green Car ditujukan agar mampu “survival” dan memenangkan persaingan industri otomotif di era FTA ASEAN dan Asia Timur. Aktivitas Program ini dimulai sejak 4 tahun yang lalu dengan mengadakan pendekatan ke investor, pemilik hak cipta merek (Principal), lembaga riset (R&D), industri komponen, regulator, dan lain-lain. Program ini telah membuahkan hasil dengan masuknya investasi baru pada 5 (lima) industri mobil dan sekitar 100 industri komponen otomotif, serta industri bahan baku baja dan plastik. Industri komponen yang terbentuk akan dapat menunjang program lain yang simultan sedang dijalankan antara lain: Program Angkutan Umum Murah (angkutan pedesaan), program manufaktur mobil dengan merek orisinal domestik, dan lain-lain. “Program Low Carbon Emission bagi mobil buatan dalam negeri untuk semua kapasitas mesin Internal Combustion Engine (ICE) termasuk didalamnya yang mengadopsi teknologi hybrid, converter kit BBG, dan lain-lain.  Program ini untuk mendorong produksi mobil yang hemat BBM dan lebih bersih emisi gas buang,” pungkas dia.

 

Baca :  Kemenperin Beri Bantuan Mesin dan Peralatan Kepada IKM Korban Banjir