Pembentukan Raksasa Reasuransi Capai Modal Rp 13 Triliun

JAKARTA-Pemerintah terus mendorong terbentuknya raksasa reasurani. Sehingga perusahaan asuransi nasional tidak perlu membuang premi atau meminta back up dari reasuransi luar negeri. “Itu berarti  kekuatan dana dari raksasa reasuransi akan mampu menahan risiko hingga Rp 130 triliun atau 10 kali lipatnya,” kata Dumoly F Pardede, Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK  di Jakarta, Senin, (13/10/2014).

Lebih jauh Dumoly memberikan contoh, manfaat raksasa reasurani ini bisa membantu,
terutama untuk risiko-risiko yang tergolong kecil, seperti kendaraan bermotor, kesehatan dan sebagian properti. “Fund risk ini saja diperkirakan sampai Rp 10 triliun,” ujarnya.

Menurut Dumoly,  beberapa perusahaan BUMN juga berminat masuk dalam raksasa reasuransi ini, misalnya, Taspen, Jasindo, Jasa Raharja, Jamkrindo, Askrindo dan Pegadaian yang akan ikut patungan menanamkan modal hingga Rp 3 triliun.

Baca :  Pemkot Tangerang Tanggung Premi BPJS Warganya

Dumoly menambahkan  peranan dalam memperbesar fund risk alias keranjang dana untuk menahan risiko lebih besar di dalam negeri. Tentu berbeda dengan risiko potensi yang sangat tinggi,  seperti pesawat terbang, satelit, atau properti gedung-gedung pencakar langit dan katastropi. “Kalau risiko ini, ya memang sebaiknya dilempar ke reasuransi luar negeri. Karena, tidak mungkin juga untuk kita serap semua risiko di dalam negeri saja, bisa habis nanti kalau klaim,” paparnya

Selain memperbesar modal, OJK juga berniat melabelkan reasuransi raksasa bentukannya dengan pemeringkatan. Pemeringkatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan perusahaan asuransi untuk berbagi risiko dengan reasuransi dalam negeri dan memanfaatkan kapasitas retensi risiko yang ada sebelum dilempar ke reasuransi luar negeri.

Baca :  Total Dana Kelolaan MAMI Capai Rp 65,7 Triliun

Adapun, rencana OJK membentuk raksasa asuransi ini akan diawali dengan merjer dua perusahaan reasuransi pelat merah, yakni Asei Re dan Reindo. Setelah keduanya menggabungkan diri, kemudian akan disusul oleh Nasre. Namun, sayangnya, industri asuransi harus bersabar dulu. Sebab, pemerintah butuh lebih banyak waktu untuk memproses rencana besar tersebut. (ek)