Pemerintah Terkesan Membiarkan Rupiah Anjlok

SURABAYA-Sejumlah perusahaan domestik mencatat kinerja negative akibat melemahnya rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Kelesuan ekonomi menjelang pemilu memberikan sinyal yang tidak baik bagi perekonomian Indonesia di tahun 2014.  Sayangnya, pemerintah terkesan tidak acuh melihat situasi ini. “Saya melihat ada pembiaran yang dilakukan pemerintah. Rakyat yang paling menderita akibat menurunnya rupiah,”  ujar Alumnus Magister Ekonomi FEUI, Syaifuddin di Surabaya, Minggu (8/12).  

Padahal kata dia, melemahnya rupiah juga berdampak pada utang luar negeri Indonesia yang otomatis mengalami kenaikan akibat situasi ini. “Perdagangan di bursa melemah karena arus uang yang keluar dari Indonesia cukup besar,” ujarnya.

Sebenarnya kata dia, pemerintah harus melakukan langkah-langkah strategis untuk menyelamatkan ekonomi Indonsia.  Akan tetapi, pemerintah tidak bisa mencari solusi persoalan pada mekanisme pasar. Pasar liberal tergantung pada trend, sehingga langkah yang ditempuh pemerintah kini dinilai sebagai tanda menyerah pada penyelamatan rupiah.

Dikatakannya, langkah pemerintah yang tidak berupaya mengendalikan jatuhnya rupiah berdampak pada psikologi pasar. Investor akan menilai iklim investasi di Indonesia tidak menguntungkan yang berakibat pada menurunnya investasi dan saham Indonesia tersandera sentimen negatif.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sudah menembus Rp 12 ribu membuat pengusaha lebih waspada melangkah dalam bisnisnya. Khususnya pengusaha yang mengandalkan kegiatan impor harus lebih efisien dalam mengelola bisnisnya ke depan. “Harus lebih efisien, berhati-hati dan berpikir panjang karena kita sedang mengalami kesulitan begini (ekonomi). Tapi saya rasa pertumbuhan bisnis tahun depan masih akan bagus meski menghadapi tahun politik. Kalau situasi politik stabil, pasti tidak akan bermasalah tahun depan,” tegasnya.

Lebih jauh dia menilai, pelemahan nilai tukar rupiah memang sangat menguntungkan bagi eksportir yang selama ini meraup pendapatan dalam bentuk dollar AS. Sedangkan bagi importir, kondisi tersebut bak malapetaka. “Untuk ke konsumen karena banyak impor barang pasti akan terjadi inflasi sehingga berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Namun dalam jangka panjang, ekspor kita akan lebih kompetitif dengan pelemahan rupiah serta impor menjadi mahal dan bisa ditekan,” terang dia.

Karena itu, dia berharap, nilai tukar rupiah dapat kembali stabil di akhir tahun. Bahkan ke depannya melalui kebijakan moneter dari Bank Indonesia (BI) bisa mendukung dunia usaha. “Harapan pengusaha yang penting volatilitas rupiah stabil, tidak naik turun. Kalau keadaannya volatil tinggi malah akan menyusahkan kami untuk merencanakan bisnis,” pungkasnya.