Dana Dari Pasar Modal Lebih Efektif Ketimbang Pinjaman Bank

ILustrasi

BANDA ACEH-Peran pasar modal untuk pendanaan perusahaan dan sarana investasi terus mengalami peningkatan. Pertumbuhan pasar modal Indonesia mencapai puncaknya melalui beberapa insentif dan regulasi yang dilakukan oleh pemerintah, khususnya sejak era swastanisasi bursa efek pada 13 Juli 1992.

Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Group 2 Bursa Efek Indonesia (BEI), Umi Kulsum mengatakan saat ini peran pasar modal sebagai sumber pendanaan perusahaan bukan hanya sekedar alternatif tetapi sudah mampu menjadi sumber pendanaan utama.

Dana yang ditawarkan di pasar modal melalui beberapa aksi korporasi perusahaan seperti pencatatan perdana saham (initial public offering/IPO), pencatatan saham baru (rights issue) maupun penerbitan obligasi setiap tahunnya dinilai jauh lebih efisien ketimbang pendanaan yang didapatkan perusahaan dari pinjaman perbankan.

“Khususnya ketika tren inflasi sedang mengalami peningkatan yang secara tidak langsung mempengaruhi tingkat suku bunga pinjaman perbankan,” ujar Umi Kulsum dalam keterangan tertulisnya, Jumat  (29/8).

Baca :  Kapitalisasi Pasar BEI Mengalami Peningkatan Sebesar 652,44%

Alhasil, jumlah perusahaan yang mencatatkan IPO, rights issue ataupun obligasi serta dana yang dihimpun dari ketiga aksi korporasi tersebut mencatatkan hasil yang cukup signifikan di setiap tahunnya.

Meski jika dibandingkan terdapat fluktuasi, yang salah satunya dipengaruhi oleh perekonomian di dalam dan luar negeri, di setiap tahunnya, namun hal tersebut tidak menyurutkan minat perusahaan untuk tetap memperoleh pendanaan di pasar modal.

Jenis Aksi Korporasi 2012 2013 2014*
IPO dan Relisting Rp10,136 Triliun(23 emiten) Rp16,747 Triliun(31 emiten) Rp4,99 Triliun(19 emiten)
Rights Issue Rp18,086 Triliun Rp32,971 Triliun Rp23,30 Triliun
Obligasi, Sukuk dan EBA Rp76,26 Triliun dan US$ 20 Juta(68 emisi diterbitkan oleh 52 perusahaan) Rp58,564 Triliun(61 emisi diterbitkan oleh 47 perusahaan) Rp26,99 Triliun(28 emisi diterbitkan oleh 26 emiten)
Baca :  PT JAST Alami Rugi Bersih Rp4,8 Miliar

*Ket: Sampai dengan 25 Juli 2014 

Berdasarkan data BEI, jelas dia dalam kurun waktu 2012-Juli 2014, total nilai emisi dari ketiga aksi korporasi tersebut sebesar Rp268,04 triliun, dengan rincian: IPO dan Relisting atau Secondary Offering berjumlah Rp31,873 triliun, rights issue Rp74,357 triliun dan hasil dari penerbitan obligasi, sukuk dan Efek Beragun Aset (EBA) sebesar Rp161,184 triliun.

Sampai dengan akhir Juli 2012, total ada 501 perusahaan yang sahamnya telah dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Agar pilihan investasi investor di pasar modal Indonesia semakin beragam, otoritas BEI bersama Self Regulatory Organizations (SRO) lainnya, yaitu PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) berkomitmen untuk terus menambah jumlah perusahaan yang tercatat tanpa mengurangi kualitas dari masing-masing emitennya. BEI juga terus berupaya meningkatkan likuiditas saham emiten dan menambah jumlah obligasi yang tercatat,” jelasnya.

Baca :  Dana dari Pasar Modal Capai Rp 90 Triliun di Tahun 2016

Salah satu cara untuk meningkatkan minat perusahaan yang berkualitas baik untuk melakukan aksi korporasi melalui pasar modal adalah dengan memberikan diseminasi informasi tentang pasar modal kepada publik melalui kerja sama dengan media massa baik berskala nasional maupun lokal.

“Adapun salah satu sarananya adalah dengan menggelar workshop wartawan. Melalui workshop, diharapkan media lokal dapat menjadi media partner dalam menyebarluaskan informasi mengenai pasar modal termasuk pengenalan fungsi dan peran lembaga-lembaga otoritas pasar modal serta melihat peluang pendanaan suatu perusahaan melalui pasar modal,” pungkasnya.