Penyusunan ABT dan APBN P Rawan Penyimpangan

JAKARTA-Publik diminta mengkritisi proses penyusunan dan pengesahan Anggaran Belanja Tambahan (ABT) maupun APBN Perubahan karena berpotensi rawan penyimpangan. “ABT maupun APBN Perubahan itu kan anggaran atau kegiatan yang tidak direncanakan jauh hari. Kalau yang direncanakan jauh hari itu Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) reguler yang berlaku Januari,” ujar Kepala Sub Direktorat Pertahanan, Keamanan dan Riset Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), Emin Adhy Muhaemin di Jakarta, Sabtu (6/10).
Proses pembahasan DIPA reguler ini kata dia sangat panjang dan memakan waktu yang lama. Karena mulai dari perencanaan kerja hingga pelaksanaanya kelak, dibahas bersama oleh DPR dan pemerintah. “Ini reguler sifatnya. Sehingga relatif terlihat nyata,” kata dia.
Justru yang rawan itu adalah dana ABT APBNP yang keluarnya pada bulan-bulan sekarang ini. Karena itu bukanlah kegiatan sesungguhnya yang menjadi prioritas. “Cara pembagian anggarannyapun kita tidak tau, kenapa sebuah kementrian mendapat alokasi anggaran sebesar itu,” ujar dia.
Selain itu kata dia, potensi penyimpangan juga terjadi ketika menyusun harga perkiraan sendiri (HPS). Kadang anggaran yang ditetapkan tidak sesuai dengan realitas harga yang sebenarnya. Contohnya jelas, kasus mobil pemadam kebakaran (Damkar). “Harga normal sekitar 460 juta rupiah per unit, tetapi di HPS 940 juta rupiah per unit. Itupun kalau beli satu, kalau beli banyak pasti harga per unitnya tidak sebesar itu. Dari situ sangat keliatan sangat tidak wajar harga dari 460 juta rupiah ke 940 juta rupiah. Jadi waktu penyusunan HPS juga rawan,” imbuh dia.
Disamping itu kata dia penyimpangan juga bisa terjadia pada saat pengumuman pemenang tender. Aturannya, pemenang itu adalah urutan pertama yang memenuhi syarat administrasi, tehnis dan harganya paling kompetitif. Tetapi anehnya, pemenang itu bukan di urusan prioritas yang semestinya menjadi pemenang. “Pemenangnya bisa urutan ke 13 atau 14. Padahal antara urutan 1 ke 13 itu harganya beda berapa jauh. Perbedaannya berapa persen, diatas yang paling bawah. Ini kan menjadi pertanyaan, kenapa pemenangnya berada diurutan paling jauh,” jelas dia.
Fakta ini mengindikasikan, pengumuman pemenang itu rawan manipulasi. Karena itu perlu dikawal atau dipantau karena berpotensi menyimpangan. “Penyimpangan ini kadang direncanakan berdasarkan pengarahan dari level pimpinan teratas,” tutur dia.
Dan titik kritis penyimpangan yang lain terjadi pada saat serah terima barang atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan kualitas. “Semestinya di awal Januari, pekerjaan yang tahun sebelum sudah selesai, kecuali tahun kontraknya jamak (kontrak yang terus melewati tahun anggaran). Ada pekerjaan yang belum selesai, tetapi sudah dibayar. Ini sebuah bentuk penyimpangan,” urai dia.

Baca :  CIMB Niaga Syariah Perluas Jaringan ke Banjarmasin