Spekulan Properti Incar MBR

Tuesday 9 Apr 2013, 1 : 08 pm
by

JAKARTA-Pengamat Ekonomi Universitas Pancasila Jakarta, Agus S Irfani menilai, aksi spekulasi di sektor properti  kelas menengah ke atas pada 2013 telah menunjukkan tren menurun. Namun, para spekulan ini akan mengalihkan kegiatan spekulasnya di sektor properti yang diperuntukan bagi masyarakat berpendapatan rendah (MBR) sehingga harus diwaspadai. “Tahun 2013 pertumbuhan aksi spekulasi properti sudah agak menurun, karena spekulan yang bermain di kelas menengah ke atas  sudah mulai jenuh. Hanya saja yang saya takutkan, pada properti untuk MBR dimasuki para spekulan, karena ini yang pasarnya belum jenuh dan peluangnya masih besar. Situasi ini justru memicu kekhawatiran,” ucap Agus  di Jakarta, Selasa (9/4).

Pada 2012, kata dia, rumah yang diperuntukan bagi MBR ditargetkan sebanyak 200 ribu unit, tetapi baru tercapai 80 ribu unit  atau hanya mencapai 40 persen. “Jangan sampai spekulan masuk ke properti untuk MBR. Kalau spekulan masuk di MBR dan rumah- rumah sederhana ditangani spekulan, hal itu tentunya akan merusak,” papar Agus.

Agus menegaskan, pada dasarnya selama tiga bulan terakhir aksi spekulan di sektor properti di kelas menengah ke atas sudah  mengalami penurunan. “Pada 2009-2012 pertumbuhannya mencapai 56 persen. Setengahnya itu dikuasai investor dan setengahnya  lagi dimiliki pengguna akhir,” terang dia.

Namun demikian, menurut dia, sejak pertengahan 2012 hingga April 2013 pertumbuhannya hanya sebesar 25 persen. “Jadi, sudah  mulai agak jenuh. Menurut data Real Estat Indonesia (REI), pada akhir 2012 angka penjualannya mencapai 89,6 persen atau yang  berhasil terserap pasar,” ujar Agus.

Ironisnya, lanjut Agus, hanya sekitar 76 persen dari penjualan tersebut yang dibeli oleh pengguna akhir dan sisanya dibeli  oleh para spekulan. “Bukan hanya satu atau dua spekulan. Ada juga yang satu orang membeli banyak properti. Tetapi, ini yang  terjadi di 2012, kalau di 2013 sudah jenuh,” tegas dia.

Agus memperkirakan, saat ini aksi para spekulan tersebut dinilai belum terlalu berbahaya bagi terciptanya bubble, karena  gelembungnya diperkirakan terjadi secara umum di kelas bawah sampai atas dengan pertumbuhan 12 persen. Kalau di Indonesia  belum terlalu membahayakan. Gelembungnya secara umum, dari kelas bawah sampai kelas atas yang sekarang ini pertumbuhannya  sekitar 12 persen,” kata Agus.

Menyinggung soal kekhawatiran Bank Dunia bahwa Indonesia akan mengalami bubble di sektor properti, menurut Agus, tidak beralasan. Pasalnya, kekhawatiran tersebut lebih disebabkan trauma di masa lalu, ketika Amerika Serikat mengalami krisis di 2008 yang dipicu oleh kebijakan subprime mortgage. “Di Amerika itu karena spekulan kredit perumahan. Di sana kredit perumahan itu disekuritisasi atau dijadikan surat berharga. Kalau di Indonesia, para spekulan itu menjualnya masih dalam bentuk properti di pasar sekunder. Di Indonesia, pertumbuhannya mudah kempes, apalagi ada kenaikan tarif listrik, maka akan menurun dan pasar pun sudah cukup jenuh,”  pungkas dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Don't Miss

BI: Pertumbuhan Kredit Diperkirakan 10,8% pada 2024

JAKARTA–Bank Indonesia (BI) mengumumkan, hasil survei menunjukkan responden tetap optimis

Kebijakan B20 Hemat Impor Solar Hingga USD 937,84 Juta

JAKARTA-Kebijakan pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) berupa biodiesel sebesar 20%