Transaksi Capai Jutaan Dolar, Produk Indonesia Laris di Turki

TURKI-Produk-produk unggulan Indonesia berhasil meraup transaksi jutaan dolar dalam ajang Izmir International Fair (IIF) 2015 di Turki. Produk kertas dipesan sebanyak 2 kontainer per bulan, bernilai USD 1-1,5 juta per bulan. Sementara, produk tekstil diorder senilai USD 35-50 ribu per bulan, lalu minyak esensial sebanyak 1 barel per bulan, produk kantung plastik degradable senilai USD 262,5 ribu per bulan, serta produk makanan olahan sebanyak 2 kontainer setara dengan USD 5 juta. “Produk-produk Indonesia banyak dipesan selama pameran. Ini kabar baik di tengah lesunya perekonomian global,” tegas Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Nus Nuzulia Ishak, Kamis (10/9).

Selain itu, jelasnya, produk ban mobil mendapatkan kontrak 200 ribu unit ban mobil pertahun untuk memenuhi kebutuhan konsumen Turki. Pencapaian dalam pameran di Izmir ini sekaligus melengkapi surplus perdagangan Indonesia dengan Turki.

Total perdagangan Indonesia-Turki pada 2014 mencapai USD 2,47 miliar, sedangkan pada periode Januari-Juni 2015 mencapai USD 734 juta. Dalam periode 2010-2014, total perdagangan kedua negara mengalami pertumbuhan 16,56% pertahun.

Dari sisi neraca perdagangan, Indonesia selalu mencatatkan surplus dengan Turki. Pada semester I tahun ini, Indonesia mencapai surplus sebesar USD 487 juta.

Sementara ekspor Indonesia ke Turki pada semester I tahun ini mencapai USD 611 juta yang didominasi oleh serat stafel buatan (HS 55) dengan pangsa 26,9%; filamen buatan (HS 54) 19,6%; karet dan barang dari karet (HS 40) 9,7%; lemak dan minyak hewan (HS 15) 6,99%; dan bahan bakar mineral (HS 27) 3,3%.

Sedangkan impor Indonesia dari Turki pada semester I tahun ini senilai USD 124 juta dengan produk yang didominasi oleh tembakau (HS 24) dengan pangsa 17,6%; mesin-mesin (HS 84) 17,3%; bahan kimia anorganik (HS 28) 7,7%; garam (HS 25) 7,3%; dan peralatan listrik (HS 85) 6,3%.

Kemendag bersama KBRI Ankara juga memanfaatkan kegiatan ini untuk melakukan penjajakan kerja sama dan menjalin jejaring bisnis untuk mempromosikan produk-produk ekspor Indonesia.

Menurut Nus, Indonesia mesti memanfaatkan semua peluang untuk mengejar target USD 10 miliar hingga 2019 seperti yang diminta Presiden Joko Widodo. “Sesuai amanat Bapak Presiden, saat kunjungan Presiden Erdogan ke Indonesia pada Agustus lalu, Presiden Joko Widodo menargetkan peningkatan nilai perdagangan kedua negara sebesar USD 10 miliar hingga 2019. Untuk itu, kita semua bekerja keras dan terus menciptakan inovasi,” ungkapnya.