Banyuwangi Tolak Pembangunan Hotel Kelas Melati

Banyuwangi Tolak Pembangunan Hotel Kelas Melati

50
0
BERBAGI

BANYUWANGI-Pemkab Banyuwangi menggenjot habis-habisan Industri pariwisatanya melalui eco tourism. Bahkan sektor pariwisata menjadi andalan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Namun begitu Pemkab Banyuwangi melarang pendirian hotel kelas melati, karena dikhawatirkan akan berdampak negatif. “Kami buat policy, tidak ijinkan hotel melati dibangun di banyuwangi. Karena hotel melati ini kalau dirazia satpol PP isinya bukan wisatawan,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas usai pembukaan sosialisasi 4 Pilar di Pendopo Banyuwangi, Jumat (25/11/2016).

Salah satu alasan penolakan hotel melati, kata Anas, masalahnya pariwisata ini lebih dekat ke kiri dikit “freesex”. “Kita bukan seperti Bali karena mayoritas di sini masyarakat muslim,” ucapnya seraya menambahkan bisa dilihat bagaimana wisman mengunjungi salah satu lokasi wisata yang cukup favorit yakni kawasan Ijen.

Menurut Anas, pembanguhan hotel kalau tidak dikendalikan dalam industri pariwisata ini maka akan tumbuh hotel-hotel yang nggak jelas. “Coba lihat ke kawasan Ijen, tidak akan temukan hotel-hotel semacam itu. Dan tidak ada reaksi yg berat karena urusannya bukan maksiat atau tidak maksiat. Ini urusannya segmentasi pasar,” ungkapnya

Banyuwangi fokus ke eco-tourism. Karena fokus ke sana maka wisata hiruk pikuk tak akan mengijinkan. “Jadi kami tak ijinkan karaoke baru, diskotik baru,” cetusnya sambil menjelaskan justru pada
2010, investasi pada sektor pariwisata malah naik. “Data kami menunjukkan 2010 minat investasi naik, Banyuwangi menjadi ranking 31. Nah pada 2013 kita sudah ranking 3. Semester ini realisasi investasi Jawa timur kita ranking 3. Jadi tidak ada korelasi tempat hiburan dengan meningkatnya wisatawan,” paparnya.

Mantan anggota Komisi V DPR dari F-PKB ini menegaskan sektor pariwisata sekarang melonjak luar biasa. Dampak positifnya pusat ekonomi kreatif juga tumbuh. “Jadi ini salah satu dampak pariwisata. Dulu 2010 kurang lebih hanya 400 ribu wisatawan, namun sekarang sudah mencapai 2,4 juta wisatawa. Target kita 24 juta wisatawa bisa jadi terlampaui,” jelaanya.

Saat ditanya soal jumlah wisatawan mancanegara (wisman), Anas menjelaskan
wisman dulu hanya beberapa ribu sekarang sudah mencapai 50 ribu. Pihaknya, sambung Anas, punya skala prioritas program pariwisata. Ada program wajib dan ada program unggulan. “Nah, pariwisata ini kita jadikan program unggulan karena pariwisata bagi Banyuwangi ini buka semata-mata mendatangkan uang dari turis. Tapi alat konsolidasi merubah prilaku orang,” terangnya.

Dulu Banyuwangi ini kotor, sambungnya, namun sekarang ini bisa dilihat kondisi kebersihan kota, tidak ada lagi sampah berserakan.
“Perilaku orang berubah. Dulu orang ngebom ikan sekarang berubah total,” tegasnya.

Selain itu konsolidasi soal infrastruktur, papar Mantan aktifis Ansor, tidak mungkin Pemkab menjual pariwisata tanpa memperhatikan kondisi jalan. “Tidak mungkin kami jual pariwisata kalau air bersih kami tidak ada,” tandasnya lagi. ***