Dana Olahraga Minim, Hanya 0,33% dari APBN

195
Wakil I Ketua Umum KONI Pusat, Suwarno

JAKARTA-Upaya mencetak atlet olahraga berprestasi di Indonesia tampaknya akan sulit terwujud lantaran minimnya political will negara. Hal ini tercermin pada rendahnya alokasi anggaran (budget) untuk pembinaan olahraga prestasi, yang hanya 0,33% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Anggaran untuk bidang olahraga tersebut lebih kecil dari yang didapatkan untuk bidang kesehatan dan pendidikan. “Dengan anggaran yang begitu kecil, prestasi olahraga Indonesia sulit untuk berkembang. Jika dibandingkan dengan pengelolaan anggaran olahraga Indonesia dengan Thailand, jauh sekali perbedaannya. Anggaran untuk olahraga di Thailand besar sekali dan hasilnya pun, banyak atlet berpretasi di sana,” ujar Wakil I Ketua Umum KONI Pusat, Suwarno dalam kegiatan Pembekalan Pewarta Olahraga dalam Rangka Fasilitasi Management Event Olahraga Tahun 2016 di Wisma PP PON Cibubur, Jakarta, Selasa (29/8).

KONI jelasnya sulit melakukan pembinaan atlet secara menyeluruh lantaran anggaran yang sangat terbatas. Bahkan, jumlah anggaran negara untuk pembinaan olahraga pun angkanya fluktuatif. Hal ini bisa dilihat pada alokasi anggaran pemerintah sejak 2012 hingga 2016 ini.

Pada tahun 2012 jelasnya, anggaran Kemenpora untuk  Pembinaan Olahraga Prestasi sebesar Rp 474,5 Miliar. Dari dana ini sebesar 0,016% atau setara Rp 9 Miliar diberikan KONI.
Kemudian, pada tahun 2013,  anggaran Kemenpora untuk  Pembinaan Olahraga Prestasi sebesar Rp 250 Miliar . Dari dana ini sebesar 0,008%    atau senilai Rp7 Miliar diberi KONI.

Lalu, pada tahun 2014,  anggaran Kemenpora untuk  Pembinaan Olahraga Prestasi mencapai angka Rp 385 Miliar. Dari dana ini sebesar 0,013%    atau sebesar Rp 5 Miliar diberi KONI.
Sementara itu, pada 2015, anggaran Kemenpora untuk pembinaan olahraga mencarai Rp 436 Miliar  dan sebesar 0,015% atau setara Rp 102 Miliar dianggarkan untuk KONI.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pada 2016 ini, KONI mendapat alokasi anggaran sebesar Rp 214 miliar. Namun hingga saat ini, dana tersebut belum diturunkan dari pihak Kemenpora. Padahal, anggaran tersebut sudah tercatat di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan telah disetujui Komisi X DPR RI. “Kami sudah cek ke Kemenkeu. Dan memang ada anggaran untuk KONI. Tetapi, belum cair juga sampai sekarang. Saya juga nggak tahu kenapa sampai sekarang anggaran itu belum turun,” terangnya.

Menurutnya, minimnya dukungan anggaran dari pemerintah mengakibatkan KONI Pusat tidak bisa memenuhi kebutuhan peralatan latihan dan tanding para atlet. Bahkan, banyak atlet harus memberikan peralatan dengan dana pribadi. Akibatnya, pembinaan olahraga prestasi menjadi terputus karena tidak ada bantuan dana dari pemerintah.  “Dengan kondisi ini, KONI tidak bisa berperan besar, karena keterbatasaan anggaran,” jelasnya.

Meski kontingen Indonesia sukses membawa pulang satu medali emas dan dua perak di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, kata Suwarno, belum ada perubahan signifikan terhadap peningkatan prestasi olahraga. Buktinya, Indonesia belum bisa mengandalkan cabang olahraga (cabor) lain di luar bulutangkis, angkat besi, dan panahan. ”Jadi kalau kita bisa meraih medali dari cabor bulutangkis dan angkat besi pada Olimpiade Rio lalu, itu bukanlah hal yang luar biasa. Karena kedua cabor ini memang sudah menjadi cabang unggulan kita di Olimpiade dalam beberapa tahun terakhir. Jadi tidak ada perubahan yang signifikan terhadap olahraga kita pasca Olimpiade,” kata mantan Komandan Satlak Prima ini.

Menurutnya, sebelum Olimpiade Rio, pihaknya telah mempersiapkan 12 cabor berdasarkan prestasi terakhir. Namun dari ke-12 cabor tersebut, hanya tujuh cabor yang lolos ke Olimpiade, beberapa di antaranya lewat ‘wild card’. Pun demikian, dari ketujuh cabor tersebut, Indonesia masih tetap mengandalkan ketiga cabor di atas. “Untuk itu, kami berharap, Kemenpora perlu melakukan perubahan signifikan bagi peningkatan olahraga Indonesia secara menyeluruh,” pungkasnya.