Daya Saing di Bidang Kemaritiman Harus Diperkuat

Daya Saing di Bidang Kemaritiman Harus Diperkuat

16
0
BERBAGI
Gubernur BI, Agus Martowardoyo/photo republika.co.id

BATAM-Sebagai negara yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan, serta negara bergaris pantai terpanjang di dunia, Indonesia memiliki potensi yang besar sebagai poros maritim di dunia, termasuk sektor wisata maritim. Beberapa potensi maritim Indonesia yang dapat dikembangkan antara lain bidang wisata maritim, perikanan, migas/energi, serta industri manufaktur dan galangan kapal.

Namun masih terdapat beberapa tantangan, termasuk infrastruktur pendukung serta sumber daya alam yang belum memadai. “Untuk itu, kerja sama dan keseriusan semua pihak sangat diperlukan,” ujar Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus D.W. Martowardojo, dalam diskusi publik di Batam Jumat, (12/8).

Diskusi membahas mengenai strategi kebijakan pengembangan wilayah di sektor maritim dan pariwisata. Bertindak sebagai pembicara adalah Gubernur BI, Menteri Koordinator Bidang Maritim, Menteri Pariwisata, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, serta Kepala BP Batam. Dalam diskusi tersebut, Gubernur Kepulauan Riau berperan sebagai moderator.

Agus mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia didukung oleh ekonomi di daerah. Ke depan, Indonesia harus mampu tumbuh kuat, seimbang, berkesinambungan, dan inklusif. “Untuk itu, reformasi perlu dilakukan di berbagai sektor, bukan hanya fiskal namun juga moneter dan struktural,” imbuhnya.

Di bidang reformasi struktural, penguatan sektor riil menjadi kunci. Salah satunya adalah penguatan daya saing di bidang kemaritiman dan pariwisata.

Sejalan dengan itu, menteri Koordinator Bidang Maritim, Luhut B. Pandjaitan, menyatakan pentingnya membuat industri maritim Indonesia kompetitif dengan negara lain. Namun demikian masih banyak masalah yang perlu diselesaikan, antara lain masalah konektivitas antardaerah.

Dalam pengembangan maritim tersebut, kerja sama serta integrasi antara berbagai sektor harus dilakukan. Masalah pada sektor-sektor pendukung seperti perizinan, tanah, dan lain-lain perlu ditangani secara terbuka. Hal ini dapat dilakukan bila masing-masing sektor menghilangkan ego dan bekerja untuk kepentingan negara.

Sementara Menteri Pariwista, Arief Yahya, menyampaikan potensi Indonesia yang besar di sektor pariwisata, baik dari sisi ukuran, pertumbuhan, maupun dampaknya. Sektor pariwisata adalah sektor yang paling murah dan mudah untuk dikembangkan. Pengembangan sektor pariwisata dapat memberi sumbangan yang berarti kepada PDG, cadangan devisa, dan lapangan kerja. Selain itu, industri pariwisata pun merupakan industri yang berkelanjutan (sustainable). Untuk itu, perlu alokasi dana yang memadai untuk pengembangan sektor pariwisata.

Menteri PAN RB, Asman Abnur mengatakan untuk mendukung pengembangan maritim dan pariwisata, perlu sumber daya manusia yang memadai. Reformasi birokrasi memungkinkan didapatkannya kemudahan dalam pengembangan berbagai sektor industri yang diperlukan, serta pelayanan publik yang baik.